06 December 2009

I fell "Nyasar...."

Pernah ngerasain yang namanya nyasar? Tiba di suatu tempat yang bukan seharusnya kau berada, atau di suatu tempat dimana kau tidak merasa cocok di situ? Well, rasanya nggak enak banget pastinya. Mau ngapa-ngapain bingung, nggak sreg, nggak enak. Nggak cocok gitulah. Sayangnya aku merasa aku nyasar di sini, di Timika. Dan lebih buruknya lagi buan soal kotanya, tapi soal kerjaanya. Kalau soal kotanya mah aku masih bisa tolelir tapi kalo udah soal kerjaanya kok kayaknya nggak bisa ditolelir ya? Kalau nggak sreg ma kotanya emang udah semenjak tiba di sini aku nggak sreg en aku bisa menganggap di kota ini cuman numpang tidur. Tapi kalo sama kerjaanya aku nggak bisa nganggep se enteng itu. Aku nggak bisa bilang cuma numpang cari uang. Kalo aku bilang kayak gitu berarti aku nggak profesional kan? Padahal aku pengen banget menjajaki karir sebagai mekanik seperti ini lebih dalam.
Lha trus kenapa kok aku bisa ngerasa nyasar sama kerjaannya? Jadi gini ceritanya. Saat itu aku disuruh konfirmasi buku TDP-ku ke Training Center. Pas aku naik ke Training Center, aku dikasih tahu kalau skillku yang dari Sangatta kemarin nggak dipakai satu trus dari sini kurang satu. Jadi ada perbedaan jenis skill dari Sangatta dan Kualakencana. Kok bisa beda? Soalnya di site Kualakencana ini CRC dan di Sangatta branch (maksudnya workshop umum, ada servicenya). Jadi untuk skill Test Engine (aku lupa namanya apa, yang jelas intinya itu) nggak dipakai tapi tetap ditulis terus sebagai gantinya ada skill Using Pressurized Washing Machine (skill memakai alat cuci komponen). Deg! Aku langsung nyadar kalau aku nyasar di CRC. Kalau di CRC ilmunya dikit, pengalaman juga dikit. Yang jelas aku merasa skuill yang kupelajari di Sangatta kemarin nggak ada gunanya. Elektrik sama Engine, terutama hampir nggak dipakai. Karena di sini aku ditempatin di Hydraulic. Bahkan kerjaanku cuma inspect komponen Hydraulic saja. Nggak menantang dan juga ilmunya dikit. Dari 21 skill yang kupelajari dari Sangatta kemarin cuma skill measurement saja yang paling dominan. Pokoknya aku merasa nggak nyaman banget jadinya. Trus aku tanya sama Mr Bond. Lebih baik mana Branch sama CRC kalau soal pengalaman. Lebih bai Branch dia bilang. Sets! Saat itu juga pikiranku langsung berada di Sangatta, ingat workshop yang baru saja kutinggalkan. Sumber ilmu dan pengalaman yang telah kutinggalkan. Belakangan juga ku ketahui bahwa salary di sana lebih tinggi daripada di sini. di sana roster pula. Huh! menyebalkan...

02 December 2009

Inikah yang Kubutuhkan?

Kadang aku berpikir saat akan memutuskan sesuatu, apakah benar ini merupakan sesuatu yang kubutuhkan? Atau aku hanya sesuatu yang kuinginkan saja. Mungkin karena terlalu banyak pikiran dan pertimbangan, aku jadi kebingungan menilai sesuatu yang kuinginkan atau yang kubutuhkan.
Mungkin kalau orang lain bilang, antara kebutuhan dan keinginan berbeda jauh. Tapi bagiku sangat tipis bedanya bahkan saling berkaitan. Kalau menurutku, kalau kita membutuhkan suatu barang, katakanlah topi, kita jadi ingin membeli topi tersebut. Sebaliknya jika kita menginginkan sebuah topi, maka kita merasa seolah membutuhkannya. Jadi ada hubungan timbal balik.
Suatu hari aku sempat ngobrol dengan bosku, sebut saja namanya Mr. Bond. Aku sering sharing, cerita-cerita, dan mendiskusikan hal-hal dari yang penting sampai yang penting dan menyangkut pekerjaan. Aku tanya sama beliau, "Bos! Bedanya kebutuhan sama keinginan apa ya?"
Beliau sebenarnya punya prinsip, punya pendapat tentang hal itu, tapi beliau sepertinya rada kesulitan menjelaskannya, dan itulah ciri khas Mr. Bond. Sulit menjelaskan sesuatu. Tapi aku nangkap penjelasan beliau seperti ini. Kebutuhan itu didasarkan pada keperluan akan sesuatu yang penting dan memang berguna, sedangkan keinginan didasarkan hanya pada nafsu belaka, dan bisa jadi sesuatu yang kita inginkan tersebut pada akhirnya tidak berguna.
Aku berusaha me masukkan paham itu ke dalam benakku tapi sulit. Bisa, tapi cuma sebentar. Tapi terus kembali ke pahamku sendiri.
Mungkin memang susah ya mengubah pendapat sendiri yang sudah mengakar kuat? Tapi haruskah ku ubah pendapatku? Kalau untuk hal itu sepertinya harus ku ubah karena bakalan berpengaruh pada caraku memutuskan sesuatu di kemudian hari.