30 May 2011

The Effect of Tough Night

Well. Ternyata efek dari "Tough Night" kemarin tidak cukup sampai kemarin saja. Efeknya terjadi sampai pagi ini.

Memang kemarin sudah tidur dari pagi sampai jam 12.30 p.m. Cukup lama (sangat lama malah) setengah hari penuh. Tapi tidur setengah hari cuman banyak di kuantitasnya saja. Kualitas tidak baik. Bangun tidak fresh. Kalau menurut sebuah artikel yang pernah kubaca dulu, bila dalam tidur kita bermimpi, berarti tidur kita tidak nyenyak. Semakin terasa nyata mimpinya, semakin tidak nyenyak tidur kita. Entah benar atau tidak artikel itu, tapi aku percaya dan kurasakan begitu. Kemarin tidur aku bermimpi sangat nyata dan mengganggu pikiranku sehingga bangun pun jadi tidak segar dan hati tidak enak.

Bangun langsung diajak makan sama teman. Makan gado-gado favorit di depan gang masuk ke rumah kost-ku. Enak karena mungkin ibu-ibu yang jual orang Jawa (dari Jember). Relatif lebih mahal dari penjual gado-gado lain di Timika tapi lebih enak dan mengenyangkan. Kalau yang lain mungkin Rp. 10.000,- seporsi, tapi kalau di situ Rp. 13.000,- seporsi. Selain itu dekat juga karena tinggal jalan ke depan sedikit saja.

Habis makan juga tidak pergi ke mana-mana lagi, jalan-jalan atau main ke suatu tempat. Cuma belanja sebentar ke minimarket dekat rumah. Sabun mandi dan stok cemilan habis. Setelah itu pulang dan sampai rumah juga cuma nonton film The Pacific sama main game. Kalau dilihat seharian tidak ada kegiatan yang menguras tenaga atau bikin capek. Malamnya juga seperti biasa setiap malam Senin ada liqo'. Memang kadang-kadang tempatnya agak jauh dari rumah, tapi semalam cuma di mushola dekat rumah saja. Tidak terlalu jauh.

Pulang liqo' jam setengah sepuluh, trus pergi beli sate (juga di depan gang) trus makan malam sambil nonton The Pacific lagi. Selesai sekitar jam 10.20 p.m dan langsung beranjak tidur. Tidur jam segitu masih tergolong tidur awal bagiku. Tapi kok bisa-bisanya bangun tadi pagi jam 05.08 a.m. Sudah sangat telat itu. Alarm memang sudah bunyi (3x malah). Tapi tiap kali bunyi langsung ku matikan dan aku berusaha bangun rasanya berat banget. Kaget bangun jam 05.08 a.m langsung lari ke kamar mandi, mandi, ambil air wudhu, trus berpakaian trus sholat subuh. Harapan masih bisa berangkat jam 05.15 a.m tepat saat bis pagi berangkat tapi jam segitu baru selesai berpakaian (aku kalau mandi lama sih...). Akhirnya nanti ikut bis jam 06.30 a.m saja ikut bis orang kantor. Dan sekarang berakhir di depan komputer menyambung ke internet dan mengetik posting ini sambil menunggu jam 06.30 a.m tiba. :)

29 May 2011

What a Tough Night

Night shift. Night shift = membalik hidup. Yang tadinya siang bekerja menjadi tidur. Yang tadinya malam tidur menjadi malam bekerja. Yang tadinya makan siang jam 12.00 p.m menjadi makan malam jam 00.00 am. Semuanya jadi terbalik. Tapi enaknya kerja tidak underpressure karena bos tidak ada yang masuk. "Atasan langsung" hanya seorang leader yang masih bisa dibilang mekanik. Jadi tidak terlalu mengekang.

"Jabatan"-ku di tempat kerja sebenarnya Inspector (a.k.a tukang ukur). Jadi part yang habis dibongkar dibawa masuk kemudian ku periksa apakah masih layak pakai atau tidak. Identiknya diukur menggunakan berbagai macam alat ukur untuk mengetahui ukurannya masih masuk spesifikasi standar atau tidak. Makannya bisa dibilang tukang ukur. Malam pertama sampai malam ke-4 aku masih menjadi inspector karena barang yang dibongkar banyak juga. tapi masuk malam ke-5 kerjaanku habis. makannya aku dialihkan ke bagian assembly. Kerjaanku bukan mengukur lagi, tetapi merakit part-part yang tersedia menjadi sebuah komponen hidrolik utuh. Jadi biasanya bergulat dengan alat ukur menjadi bergulat dengan kunci dan oli. Tidak masalah, karena itu juga bagian dari skill-ku.

Aku termasuk masih amatir (sangat amatir malah) dalam hal assembly. Belum lincah, masih kebanyakan bingung dan tidak tahu caranya. Tapi leaderku melepasku begitu saja dan hanya turun tangan membantu kalau aku memang benar-benar mengalami kesulitan. Dan itu mauku. Jadi aku cepat bisa dan mempunyai pengalaman sendiri. Disamping itu, ada rasa bangga juga kalau bisa menyelesaikan satu komponen sendirian tanpa campur tangan orang lain.

Selama 2 pekan masuk malam kali ini, bisa dibilang 70% aku kerja di bagian assembly. Pekan ke-2 full ke bagian assembly. Hingga malam terakhir (tadi malam) aku pun kerja di bagian assembly. Tapi semalam aku kerja sendirian. 2 komponen diserahkan kepadaku penuh. Malam-malam sebelumya temanku ada sedikit membantu. Tapi kali ini semua sibuk sehingga aku kerja sendirian. Yang bikin capek sebenarnya bukan pekerjaan assembly-nya seperti mengencangkan baut dengan torque yang besar dan sebagainya. Komponen yang ku kerjakan semalam sebenarnya tidak terlalu besar meski harus mengencangkan baut dengan torque 600 lb.ft (atau sekitar 800 N.m), dan sebuah mur dengan torque 4700 lb.ft (justru ini malah ringan karena menggunakan tool otomatis, tinggal pencet sebuah tombol). Itu termasuk komponen sedang dan mudah merakitnya. Yang bikin capek justru jalan kesana kemari cari komponen lah, cari tool-lah (karena harus berjalan ke section lain buat pinjam tool). Sebenarnya bisa diatasi dengan mempersiapkan segalanya di dekatku. Tapi itulah kekuranganku karena aku masih amatir jadi belum bisa mempersiapkan apa-apa yang diperlukan dengan baik.

Pada saat melakukannya aku belum merasa capek. Justru rasanya segar. Cuman begitu selesai langsung terasa capeknya. Aku selesaikan segalanya sampai merapikan tempat kerja dan membereskan part-part sisa tepat setengah jam sebelum bel pulang. Begitu duduk istirahat sambil menunggu bel pilang, mata langsung terasa berat, badan capek semua terutama kaki rasanya pegal. Di perjalanan pulang pun aku tidur di dalam bis sepanjang perjalanan pulang. Sampai di rumah rasanya menyenangkan sekali lihat kasur dan bantal. Tanpa ganti baju (ih! jorok...) langsung tewas terkapar di kamar....