Senin, 24 Oktober 2011. Mungkin di pagi hari itu aku untuk pertama kalinya aku bangun pagi dan langsung tertawa geli dan merasa (doh) banget. Kok bisa bangun tidur langsung ketawa? Karena aku mengalami sebuah mimpi buruk yang sangat bikin depresi bila itu beneran terjadi. Kok bisa, mimpi buruk malah ketawa? Karena... ini siapa sih tanyatanya terus!? Baca aja kenapa!?
Gini nih, mimpinya. Aku jadi anggota fotografernya NatGeo Indonesia. Wuih! Keren kan? itu salah satu impianku selain jadi engineer. Di dalam mimpi itu, aku anggota baru. Tapi sudah dipercaya berangkat ke Afrika untuk mengambil foto seekor hiu dari dekat. Wuih! Bayangin tuh! Aku punya perlengkapan kamera bawah air yang harganya selangit itu! Kapan bisa punya beneran ya? Selesai mengambil foto, karena tempatnya di pinggir pantai yang berkoral dan berkarang tajam, aku dan seorang fotografer lain (cewek kalau tidak salah) dijemput menggunakan helikopter. Anehnya, aku dan fotografer itu tidak dinaikkan ke dalam cabin, hanya digantung dengan sebuah tali di luar heli. Memacu adrenalin banget deh pokoknya!
Sesampai di base-camp, aku taruh tas berisi kamera dan perlengkapannya di dalam sebuah ruangan, tanpa memeriksanya terlebih dahulu dan segera keluar karena ada salah seorang tim yang lagi ulang tahun. Ikut meramaikan gitu. Anehnya lagi, kok orangnya bisa jadi banyak banget, padahal pahamku itu cuma base-camp sementara yang digunakan untuk tim pengambil foto hiu tersebut. Lebih anehnya lagi, kebanyakan orang-orang yang rame itu wajahnya tidak asing semua karena kalau di kehidupan nyata, mereka adalah orang-orang Trakindo. Salah seorang temanku (orang Trakindo dan ngekost di sebelah kamarku) menyuruhku mengambil kamera dan foto-foto bersama. Aku merasa oh, iya, ide bagus. Aku kembali ke dalam ruangan di mana aku menaruh kameraku dan mengambil tasnya. Dan ternyata kameraku tidak di dalam tas itu! Deg! Mungkin wajahku di dalam mimpi itu langsung pucat pasi. Seingatku pada saat di jemput dari pantai aku lupa mengancingkan tasku sehingga kameranya terjatuh. Panik, sedih, nggak tahu harus ngapain, aku cuma mengobrak abrik seisi ruangan itu, berharap kameraku ketemu tapi aku juga tahu pasti tidak akan ketemu karena sudah terjatuh entah di mana. Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa (buset deh bahasanya...). Sperti seorang marinir kehilangan senapannya. Seperti seorang koki kehilangan spatulanya. Seperti seorang fotografer kehilangan kameranya (lah, memang....). Depresi banget pokoknya.
Aku pun kembali ke tempat teman-teman ngumpul, bilang ke temanku yang tadi kalau kameraku hilang, terjatuh pada saat kembali dari laut. Aku cuma duduk dan merasa kacau, tertekan, sedih, pokoknya campur aduk deh! Stres total pokoknya! Dan terasa nyata sekali seperti aku benar-benar kehilangan kameraku. Di awal karirku sebagai fotografer NatGeo Indonesia, aku harus kehilangan kamera kesayanganku. Tiba-tiba aku membuka mata dan refleks memandang ke arah lemari tempat aku menyimpan kameraku dan segera sadar bahwa itu cuma mimpi. Aku langsung tertawa (tapi cuma pelan, tidak sampai terbahak-bahak) sambil menempuk jidatku, sadar bahwa kameraku tidak hilang dan masih tersimpan rapi di dakam dry box-nya. Rasanya seperti dikerjain. Langsung bangun ternyata udah jam 05.00 a.m dan langsung ambil air wudhu dan sholat subuh.
Begitu ceritanya aku bangun tidur langsung tertawa. Mungkin baru kali ini aku bangun tidur langsung tertawa. Seingatku sebelumnya belum pernah.