12 November 2010

New Leptop! Akhirnya....

Ha...ha...ha.... Setelah sekian lama ku impikan akhirnya jadi kenyataan juga punya gadget yang satu ini. Musti nunggu lama dan ngumpulin dana yang cukup banyak sampai akhirnya pulang cuti annual ini tertebuslah sudah. Asus A42JA-vx077d, dengan otak Intel Core i5 dengan graphic ATI Radeon HD 5730 2GB. Kaget waktu pertama kali liat spek kayak gitu. Graphic memory sebesar 2GB! Wow! Jarang-jarang ada laptop yang mempunyai spesifikasi grafik setinggi itu.
Ahad, 7 November 2010. Aku sengaja menginap di rumah budhe di daerah Suronatan. Jadi aku udah pergi dari rumah sejak sabtu sore. Niatnya emang nengok budhe sekalian Ahad paginya hunting laptop. Jadilah pagi itu sekitar jam 10.30 pagi aku memulai perjalanan cari leptop. Sebelum ini, tepatnya hari Sabtu pagi aku udah cek-cek harga dan tipe leptop di Jogjatronik sekalian nganter ibuku cek kesehatan di daerah Karangkajen. Tinggal ke arah utara dikit dah sampai di Jogjatronik. Di sana aku udah tau beberapa harga laptop yang sejak awal udah ku incar dan terkaget kaget aku ternyata harganya jauh di bawah perkiraanku semula. Tapi saat itu aku belum liat si A42JA ini. Dari Jogjatronik itu aku sudah mendapat gambaran baru, MSI CX 420 dengan Intel core i5 dan ATI radeon HD 5470. Spek-nya sih udah cukup sreg, tapi dari segi fisiknya aku merasa nggak sreg aja. Nggak cocok, meskipun harganya relatif laebih murah. Aku punya firasat setelah ku beli aku bakalan kecewa. Makannya aku memutuskan minggu paginya cari di Ramai PC and Phone Center di Jl Malioboro.
Berangkat pukul 10.30 cuma jalan kaki. ribet kalau naik kendaraan bahkan sekedar "gazelle" yang ku pakai buat ke tempatnya budhe. Toh dekat, en sekalian jalan-jalan plus nggerakin badan. Masuk Ramai, putar-putar sambil cari CX 420 (saat itu aku masih 60% pengen beli CX-420) sambil tanya laptop core i5 dengan grafik ATI Radeon yang lain. Masuk ke sebuah toko, disambut oleh mas penjualnya aku malah ditawarin A42JA ini. Tergiur grafik seri "cukup atas"-nya ATI trus grafik memori yang nggak nanggung-nanggung dilengkapi dengan harga yang tidak terlampau tinggi (sesuai dengan bajet yang ku siapkan), 60% kecenderungan pilih CX-420 berganti dengan 100% pilih A42JA. Tapi aku nggak serta merta langsung deal dengan harga yang ditawarkan mas-nya. Setelah minta nomor masnya, aku pergi ke toko lain cari A42JA lain dengan penawaran lebih rendah. Ternyata dari sekian toko komputer dan periferal di Ramai yang punya A42JA cuma di tempat yang tadi. Jadilah aku ke Jogjatronik cari saingan yang lebih murah. Di Jogjatronik pun aku cuma mendapati satu toko saja yang punya A42JA. Set dah! barang baru kayaknya ini, jadi belum banyak yang punya. Di Jogjatronik aku ditawarin harga 150rb di bawah harga yang ditawarin di ramai tadi. Belum puas, aku langsung hubungi mase Ramai. Dia bilang tadi bisa turun lagi harganya. Aku tanyain kena berapa turunnya? Dia kasih 300rb dibawah penawaran awal. Setelah ku pikir sebentar akhirnya aku deal juga dengan harga segitu. Langsung bilang lewat telepon tadi, aku jadi beli di situ. Nggak pakai lama langsung berangkat lagi ke Ramai.
Sampai di sana transaksi lancar, diinstall OS dsb-nya selesai. Pulang tas tambah berat plus bawaan tambah banyak. Sampai di rumah, langsung ku jalankan tool benchmark dari game Devil May Cry 4 sampa Far Cry 2. Hasilnya, dengan settingan grafik semua tertinggi grafik 3D kedua game tadi mampu dirender dengan frame rate 30-an fps. Sangat memuaskan!

15 August 2010

Gara-gara Buka Over-dosis

Sabtu, 14 Agustus 2010, 03.15 a.m.
Alarm Naite-ku melantunkan lagu You Can't Stop The Beat sehingga membangunkanku. Aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Setelah sholat tahajjud aku menyeduh mi instan. Ya, menu sahurku kali ini cuma mi instan karena semalam aku lupa beli makanan buat sahur. Aku memang tidak pernah masak di sini. Tidak bisa masak sih...
Sabtu ini aku tidak masuk kerja karena memang hari libur. Sebenarnya kemarin disuruh masuk, lembur, tapi aku menolaknya. Rasanya malas saja kerja. Entah karena cuma di rumah saja atau tadi sahurnya tidak optimal, rasanya jadi sangat lemas. Jadi terasa sekali laparnya.
Karena seharian merasa kelaparan, sorenya saat bebuka puasa aku langsung makan besar. Nasi bungkus yang ku beli untuk buka puasa langsung ku lahap. Padahal biasanya aku minum es atau sirup saja. Makan besar setelah tarawih. Alhasil kali ini matau sudah terasa berat bahkan sebelum isya'! Set dah! Temanku mengajakku ke masjid untuk tarawih tapi aku sudah terlanjur ngantuk berat.

Minggu, 15 Agustus 2010, 02.45 a.m.
Alarm Naite-ku kembali membangunkanku. Ya Allah! Semalam ketiduran dari jam 07.00 p.m! Belum sholat isya', belum tarawih! Langsung aku lari ke kamar mandi, wudhu kemudian sholat.
Well, paling tidak aku bisa tarawih di sepertiga malam terakhir, isya' juga...
Hehehe...

14 August 2010

Working in Power Plant

Kamis, 12 Agustus 2010, 03:40 p.m.
Aku dipanggil pak Marthen, bos sementara-ku. Beliau hanya menggantikan bos yang lagi cuti. Pak Marthen menyuruhku besoknya ke LIP, buat nge-inspect cylinder liner milik customer. Besok bakal diantar Pak Malibun ke LIP (Light Industrial Park). Waktu itu bayanganku soal LIP biasa saja seperti workshop tempatku bekerja

Jum'at, 13 Agustus 2010, 09:25 a.m.
Pak Malibun memanggilku untuk siap-siap ke LIP. Kami menyiapkan alat ukur yang akan ku gunakan. Persiapan alat ukur jadi lama karena alat ukur yang ku punya tidak cukup teliti untuk spesifikasi liner yang diukur. Aku harus cari keliling kesana kemari. Pak Malibun kemudian menghubungi customer dan memberi tahu soal itu. Customer pun bilang nggak masalah pakai alat ukurku. Akhirnya ku pakai juga alat ukurku sendiri meskipun ketelitiannya kurang.

Jum'at, 13 Agustus 2010, 10:00 a.m
Aku dan Pak Malibun berangkat ke LIP naik mobil perusahaan. Pikiranku terus membayangkan seperti apa LIP itu karena baru kali ini aku ke sana. Jarang pula ada mekanik yang ke sana.
Mobil memasuki gerbang LIP. Tampak sebuah bangunan besar menyerupai gudang. Begitu pintu mobil ku buka, langsung terdengar suara mesin yang bising berasal dari dalam bangunan itu. Dari luar sudah terdengar sangat bising. Langsung kukenakan ear-plug yang selalu kubawa.
Bangunan itu ternyata sebuah power plant yang bertugas menyuplai listrik di Mile 38, seluruh Kuala Kencana, dan bandara Moses Kilangin. Sebuah power plant dengan 4 unit generator-set diesel sebesar minibus, masing-masing berupa Caterpillar 3616 engine. 3 engine aktif dan 1 untuk back-up.
Kebisingan di dalam power plant sangat tinggi. Menyamai kebisingan pesawat yang sedang take-off. Sempat ku coba melepas sedikit sebelah ear-plug. Baru terlepas sedikit langsung ku pakai lagi karena suaranya sangat bising.
16 cylinder liner 3616 engine menunggu untuk di-inspect. Biasanya aku bekerja di workshop yang tidak terlalu bising, tapi kali ini harus bekerja bersama 3 unit engine raksasa yang bising luar biasa.
16 cylinder liner selesai dalam waktu satu jam. Satu jam di dalam power plant dengan ear-plug terpasang rapat di telinga, ku kira bakal baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Begitu keluar power plant dan kembali ke workshop, pendengaranku menjadi berkurang, meski hanya sementara. Wuih! Benar-benar pengalaman menyenangkan!

08 August 2010

Bang Toyib Mode: On

Kalo di lagunya bang toyib itu ada lirik yang berbunyi: "3 lebaran nggak pulang". Aku juga demikian. Bakalan 3 lebaran nggak pulang. 2 tahun kemarin nggak pulang, taun ini pun demikian. Yah, at least bedanya ama si bang Toyib, aku masih ingin dan berharap pulang. Kalau bang Toyib mungkin emang udah nggak peduli lagi jadinya jangankan 3 lebaran, mungkin lebaran-lebaran selanjutnya pun nggak mau pulang. Jadi sebenarnya kalo aku dibilang sama dengan bang Toyib, nggak juga. Cuman sebatas nggak pulang 3 lebarannya aja yang sama.
Seorang temanku bilang: "kok bisa sih kamu seperti itu? Seperti diperbudak pekerjaan". Mungkin bisa juga dibilang seperti itu. Tapi aku merasa nggak punya pilihan lain. Soalnya itu sudah menjadi pilihanku. Aku sudah memilih ya harus menanggung resikonya, karena segala hal pasti ada resikonya.

Bang Toyib Mode: On

Kalo di lagunya bang toyib itu ada lirik yang berbunyi: "3 lebaran nggak pulang". Aku juga demikian. Bakalan 3 lebaran nggak pulang. 2 tahun kemarin nggak pulang, taun ini pun demikian. Yah, at least bedanya ama si bang Toyib, aku masih ingin dan berharap pulang. Kalau bang Toyib mungkin emang udah nggak peduli lagi jadinya jangankan 3 lebaran, mungkin lebaran-lebaran selanjutnya pun nggak mau pulang. Jadi sebenarnya kalo aku dibilang sama dengan bang Toyib, nggak juga. Cuman sebatas nggak pulang 3 lebarannya aja yang sama.
Seorang temanku bilang: "kok bisa sih kamu seperti itu? Seperti diperbudak pekerjaan". Mungkin bisa juga dibilang seperti itu. Tapi aku merasa nggak punya pilihan lain. Soalnya itu sudah menjadi pilihanku. Aku sudah memilih ya harus menanggung resikonya, karena segala hal pasti ada resikonya.

04 March 2010

Last View of My Room


Beginilah keadaan kmarku yang di Bantul sesaat sebelum aku pergi kembali ke timika. Berantakan banget ya? Baru kutempati 2 minggu udah super berantakan gitu! Kayak Titanic pecah berkeping-keping.
Hehehe...

Looking for BaBon (Bakal Bonsai)


Kakakku punya hobi baru. Bikin bonsai. Makannya pulang cuti kemarin aku sempat hunting pohon bakal bonsai. Dia cari pohon yang namanya pohon Serut. Cari-cari di tiap penjual tanaman hias nggak ada yang jual pohon Serut bakal bonsai. Ada pohon Serut tapi dah jadi bonsai. So, harganya selangit!

Keponakan Ke-8


Ini bukan anakku lho! Ini anak kakakku, a.k.a keponakanku. Kalau nggak salah ini keponakan nomor 8. Paling bontot dia lahirnya. Juni 2009 kemarin, seminggu sebelum aku pulang cuti.

03 March 2010

@ Makassar


Cuti tanggal 6 Februari 2010 kemarin kan pulangnya sempat transit di Makassar. Cukup lama. Kurang lebih 5 jam lah! Jadi dimanfaatin buat jalan-jalan donk!

01 March 2010

Calm....

Alhamdulillah sudah tenang. Setelah mengalami banyak cobaan yang terlalu membebani hati dan pikiran sehingga membuat hati terasa tak tenang dan pikiran serasa penuh, akhirnya telah ketemu obatnya. Rasanya menyesal sekali tidak dari kemarin-kemarin atau bahkan dari dulu ku temukan. Dan yang lebih membuat tambah menyesal, ternyata obat ini justru sudah sedari dulu ku "konsumsi", bahkan rutin! Namun belakangan jadi jarang, sangat jarang malah ku tinggalkan. Kesannya "kucampakkan" begitu saja. Jadi apakah obat itu? Tadarus. Satu hal yang sejak 6 bulan terakhir ini ku tinggalkan. Jadi nggak rutin, bahkan nggak pernah. Pantas saja cobaan bertubi-tubi menghampiri. Bikin hati nggak enak, dada sesak.
Kemarin Jum'at tanggal 26 Februari 2010 (bertepatan dengan tanggal 12 Rabi'ul awal) aku menyadari bahwa aku mulai jauh dari Allah. Tadarus nggak pernah, Sholat nggak pernah jama'ah, paling cuman sholat dzuhur aja jama'ahnya. Itu pun kalau di workshop. Kalau di rumah, munfarid. Tahajjud blas nggak jalan lagi. Parah deh pokoknya! Mengerikan! Hari itu aku sholat jum'at di masjid Al-Kahfi, Timika. Libur waktu itu. Jum'at pagi hari itu aku sempat nelpon Ibuku. Beliau berpesan mumpung dalam momen Maulid Nabi Muhamad SAW, nanti sebelum jum'atan tadarus dulu. Akhirnya hari itu aku berangkat sholat jum'at lebih awal dari biasanya. Sampai di masjid baru ada 3 orang. Jadi aku nomor 4. Bangga juga. Setelah sholat tahiyatul masjid 2 raka'at, aku buka Al-Qur'an yang ku bawa dari rumah untuk meneruskan tadarusan terakhirku (akhir surat Ya Siin, kalau nggak salah). Pas mulai membaca ada perasaan aneh yang menyusup ke dadaku dan menjalar ke kepala dan seluruh badan. Perasaan nyaman. Damai sekali rasanya. Tubuhku sedikit bergetar dan hampir aku menumpahkan air mata penyesalan kenapa beberapa bulan terakhir ini aku menerlantarkan Al-Qur'anku. Nyesel banget...
Selesai tadarus pas adzan. Aku pun berkomitmen tiap maghrib jama'ah di masjid Al-Kahfi, kemudian tadarus sampai isya'. Target sebulan 2 kali khatam Al-Qur'an sesuai wejangan Ibu. Dan alhamdulillah sampai posting ini ku tulis, berjalan lancar komitmenku itu. Memang baru berjalan 3 hari. Semoga bisa tetap Istiqomah sampai akhir hayatku. Amiiin....

25 February 2010

Jadi Sama Dengan Lagu Ini...

Lirik D'Masiv
D’Masiv – Diantara Kalian

Ku akui ku sangat sangat menginginkan mu
Namun kusadari ku diantara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi

Ku akui ku sangat sangat mengharapkan mu
Tapi kini ku sadar ku tak akan bisa
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi

Lupakan aku kembali padanya
Aku bukan siapa siapa untukmu
Ku cintaimu tak berarti bahwa ku harus milikimu slamanya

aaa…aaa…

Ku akui ku sangat menginginkan mu
Tapi kusadari ku diantara kalian
Aku tak mengerti ini semua harus terjadi



Huh....
Menyebalkan...
Padahal aku nggak gitu suka sama lagu ini tapi kok malah jadi sama ya ceritanya dengan lagu ini?
Jalan ceritanya persis.
Menyebalkan sekali....

17 February 2010

For: Denok

Nok,
Maaf aku nggak bisa menjadi yang seperti yang kau harapkan.
Kurang bisa menegrti dirimu.
Mungkin itu juga yang membuatmu tidak bisa menerimaku.

Nok,
Pertemuan minggu kemarin sungguh menggangguku.
Aku memang ketemu dirimu, tetapi bukan dirimu yang ceria.
Dirimu yang sedang terbebani, yang sedang mempunyai masalah.
Aku pun nggak bisa membantu karena bahkan dirimu nggak cerita.

Nok,
Kekecewaan karena tidak bisa mendapatkanmu menjadi semakin besar setelah pertemuan itu.
Namun di saat yang sama aku merasa sedih bila aku bisa mendapatkanmu namun tidak bisa bersamamu.
Serba salah jadinya.
Mungkin inilah yang terbaik untukmu.

Nok,
Ku kira aku dengan mudah bisa melupakanmu.
Tapi ternyata tidak.
Begitu sulit melupakanmu.
Tak mudah bagiku membuka hati untuk yang lain.


Nok,
Terimakasih t'lah memberikan kenangan yang begitu berarti bagiku.
Terimakasih t'lah mau menerima pemberian dariku walaupun itu nggak terlalu berharga.
Terimakasih, Nok....

04 February 2010

Jadi Malin Kundang???

Tau Malin Kundang kan? Tokoh legenda Indonesia yang terkenal sebagai orang yang durhaka kepada orang tuanya. Pergi merantau ke negeri orang kemudian setelah sukses dan kembali ke kampung halamannya tidak mau mengakui orang tuanya sendiri. Yeah, semua orang pasti tau ceritanya jadi nggak perlu ku ceritakan ulang lagi. Sebagai seorang perantau yang pergi mencari sesuap nasi di negeri orang aku jadi merasa seperti Malin Kundang. Yah, paling tidak aku masih mengakui, bahkan merindukan orang tuaku.
Bukannya kok nggak mau pisah ma orang tua, tapi seharusnya aku merawat dan menjaga orang tuaku di hari tua mereka, bukan malah meninggalkan mereka. Memang sih, masih ada kakak ku dan yang lain yang menjaga mereka. Tapi justru karena itu aku merasa menjadi anak yang paling tidak berguna karena tidak bisa ikut menjaga orang tuaku secara langsung. Sering orang tuaku bilang padaku: "Kamu merantau juga untuk kebaikan kita juga dan untuk masa depanmu. Jadi nggak usah pikirkan yang di rumah". Entah itu cuma kata-kata untuk menenangkanku atau memang itu pendapat murni mereka.
Jadi kelihatan ya kalo aku nggak siap merantau? Kalo pendapat bosku di sini lain. Beliau bilang itu normal karena aku orang Jogja. Kok bisa!? Soalnya memang sudah menjadi adat bagi orang Jogja untuk benar-benar memperhatikan orang tua mereka. Bahkan perhatian jarak jauh nggak cukup. Yang namanya memperhatikan itu ya harus langsung! Begitu beliau bilang. Aku jadi tambah yakin aku adalah Malin Kundang versi Jogja. Ha...ha....ha....
Bayangkan. Kalau orang tuaku kenapa-napa, seperti beberapa minggu yang lalu ibuku mengalami sedikit kecelakaan namun cukup parah efeknya karena membuat pergelangan tangan beliau retak. Akibatnya beliau tidak bisa beraktifitas seperti biasa lagi selama masa penyembuhan itu. Saat pertama kali aku diberitahu hal itu aku benar-benar merasa nggak bisa apa-apa. Nggak enak banget rasanya. Saat masa penyembuhan itu ibuku jadi tidak bisa bepergian sendirian. Harus diantar orang. Opsinya hanya ada dua, diantar ayahku, atau kakakku. Ayah sudah terlalu sepuh jadi tidak bisa selalu ada untuk nganter ibu, jadi cuma kakak saja. Itu pun kalo dia nggak lagi keluar dapet orderan ndekorasi. Aku sempat berpikir kalau saja aku saat itu di rumah, pasti aku yang nganter ibu kemana-mana.
Sebenarnya yang paling nggak bisa aku terima adalah kenyataan bahwa aku tidak lagi selalu bisa mencium tangan kedua orang tuaku saat Idul Fitri tiba. Memang baru 2 kali aku merasakan tidak lebaran di rumah. Dan 2 kali itu rasanya menyebalkan, terasa hampa, menyedihkan malah. Yang namanya "sungkem" sama orang tua ya pantasnya plus cium tangan tapi yang "2 kali" terakhir cuman bisa mengandalkan operator seluler untuk menyampaikan salam dan permintaan maafku. Sering aku menyesali saat-saat aku bisa bersama dengan keluarga namun aku tidak mensyukurinya.
Ya sudah. Itulah konsekuensinya merantau. Pikiran-pikiran itu pasti selalu berakhir pada statement itu. Semua ada konsekuensinya. Mau gimana lagi. Aku yang milih jalan ini, aku juga harus mampu dan mau menanggung konsekuensinya.