15 August 2010

Gara-gara Buka Over-dosis

Sabtu, 14 Agustus 2010, 03.15 a.m.
Alarm Naite-ku melantunkan lagu You Can't Stop The Beat sehingga membangunkanku. Aku langsung beranjak ke kamar mandi untuk ambil wudhu. Setelah sholat tahajjud aku menyeduh mi instan. Ya, menu sahurku kali ini cuma mi instan karena semalam aku lupa beli makanan buat sahur. Aku memang tidak pernah masak di sini. Tidak bisa masak sih...
Sabtu ini aku tidak masuk kerja karena memang hari libur. Sebenarnya kemarin disuruh masuk, lembur, tapi aku menolaknya. Rasanya malas saja kerja. Entah karena cuma di rumah saja atau tadi sahurnya tidak optimal, rasanya jadi sangat lemas. Jadi terasa sekali laparnya.
Karena seharian merasa kelaparan, sorenya saat bebuka puasa aku langsung makan besar. Nasi bungkus yang ku beli untuk buka puasa langsung ku lahap. Padahal biasanya aku minum es atau sirup saja. Makan besar setelah tarawih. Alhasil kali ini matau sudah terasa berat bahkan sebelum isya'! Set dah! Temanku mengajakku ke masjid untuk tarawih tapi aku sudah terlanjur ngantuk berat.

Minggu, 15 Agustus 2010, 02.45 a.m.
Alarm Naite-ku kembali membangunkanku. Ya Allah! Semalam ketiduran dari jam 07.00 p.m! Belum sholat isya', belum tarawih! Langsung aku lari ke kamar mandi, wudhu kemudian sholat.
Well, paling tidak aku bisa tarawih di sepertiga malam terakhir, isya' juga...
Hehehe...

14 August 2010

Working in Power Plant

Kamis, 12 Agustus 2010, 03:40 p.m.
Aku dipanggil pak Marthen, bos sementara-ku. Beliau hanya menggantikan bos yang lagi cuti. Pak Marthen menyuruhku besoknya ke LIP, buat nge-inspect cylinder liner milik customer. Besok bakal diantar Pak Malibun ke LIP (Light Industrial Park). Waktu itu bayanganku soal LIP biasa saja seperti workshop tempatku bekerja

Jum'at, 13 Agustus 2010, 09:25 a.m.
Pak Malibun memanggilku untuk siap-siap ke LIP. Kami menyiapkan alat ukur yang akan ku gunakan. Persiapan alat ukur jadi lama karena alat ukur yang ku punya tidak cukup teliti untuk spesifikasi liner yang diukur. Aku harus cari keliling kesana kemari. Pak Malibun kemudian menghubungi customer dan memberi tahu soal itu. Customer pun bilang nggak masalah pakai alat ukurku. Akhirnya ku pakai juga alat ukurku sendiri meskipun ketelitiannya kurang.

Jum'at, 13 Agustus 2010, 10:00 a.m
Aku dan Pak Malibun berangkat ke LIP naik mobil perusahaan. Pikiranku terus membayangkan seperti apa LIP itu karena baru kali ini aku ke sana. Jarang pula ada mekanik yang ke sana.
Mobil memasuki gerbang LIP. Tampak sebuah bangunan besar menyerupai gudang. Begitu pintu mobil ku buka, langsung terdengar suara mesin yang bising berasal dari dalam bangunan itu. Dari luar sudah terdengar sangat bising. Langsung kukenakan ear-plug yang selalu kubawa.
Bangunan itu ternyata sebuah power plant yang bertugas menyuplai listrik di Mile 38, seluruh Kuala Kencana, dan bandara Moses Kilangin. Sebuah power plant dengan 4 unit generator-set diesel sebesar minibus, masing-masing berupa Caterpillar 3616 engine. 3 engine aktif dan 1 untuk back-up.
Kebisingan di dalam power plant sangat tinggi. Menyamai kebisingan pesawat yang sedang take-off. Sempat ku coba melepas sedikit sebelah ear-plug. Baru terlepas sedikit langsung ku pakai lagi karena suaranya sangat bising.
16 cylinder liner 3616 engine menunggu untuk di-inspect. Biasanya aku bekerja di workshop yang tidak terlalu bising, tapi kali ini harus bekerja bersama 3 unit engine raksasa yang bising luar biasa.
16 cylinder liner selesai dalam waktu satu jam. Satu jam di dalam power plant dengan ear-plug terpasang rapat di telinga, ku kira bakal baik-baik saja. Tapi ternyata tidak. Begitu keluar power plant dan kembali ke workshop, pendengaranku menjadi berkurang, meski hanya sementara. Wuih! Benar-benar pengalaman menyenangkan!

08 August 2010

Bang Toyib Mode: On

Kalo di lagunya bang toyib itu ada lirik yang berbunyi: "3 lebaran nggak pulang". Aku juga demikian. Bakalan 3 lebaran nggak pulang. 2 tahun kemarin nggak pulang, taun ini pun demikian. Yah, at least bedanya ama si bang Toyib, aku masih ingin dan berharap pulang. Kalau bang Toyib mungkin emang udah nggak peduli lagi jadinya jangankan 3 lebaran, mungkin lebaran-lebaran selanjutnya pun nggak mau pulang. Jadi sebenarnya kalo aku dibilang sama dengan bang Toyib, nggak juga. Cuman sebatas nggak pulang 3 lebarannya aja yang sama.
Seorang temanku bilang: "kok bisa sih kamu seperti itu? Seperti diperbudak pekerjaan". Mungkin bisa juga dibilang seperti itu. Tapi aku merasa nggak punya pilihan lain. Soalnya itu sudah menjadi pilihanku. Aku sudah memilih ya harus menanggung resikonya, karena segala hal pasti ada resikonya.

Bang Toyib Mode: On

Kalo di lagunya bang toyib itu ada lirik yang berbunyi: "3 lebaran nggak pulang". Aku juga demikian. Bakalan 3 lebaran nggak pulang. 2 tahun kemarin nggak pulang, taun ini pun demikian. Yah, at least bedanya ama si bang Toyib, aku masih ingin dan berharap pulang. Kalau bang Toyib mungkin emang udah nggak peduli lagi jadinya jangankan 3 lebaran, mungkin lebaran-lebaran selanjutnya pun nggak mau pulang. Jadi sebenarnya kalo aku dibilang sama dengan bang Toyib, nggak juga. Cuman sebatas nggak pulang 3 lebarannya aja yang sama.
Seorang temanku bilang: "kok bisa sih kamu seperti itu? Seperti diperbudak pekerjaan". Mungkin bisa juga dibilang seperti itu. Tapi aku merasa nggak punya pilihan lain. Soalnya itu sudah menjadi pilihanku. Aku sudah memilih ya harus menanggung resikonya, karena segala hal pasti ada resikonya.