25 December 2011

5 Laptop Terawet Versi Mas_Darz

Malam ini, tanggal 25 Desember 2011, saya dapat ide untuk menyampaikan 5 laptop terawet di dunia. Pasalnya ada seorang temanku mau beli leptop. Dia konsultasi ke saya tanya leptop yang bagus, yang awet tu merek apa. Nah, berikut saya sampaikan 5 leptop yang paling awet!

1. Laptop yang tidak pernah dipakai
Leptop ini sangat awet. Berapapun harga leptop yang anda beli, merek apapun yang anda beli, apapun prosesor yang tersemat di leptop anda, pasti sangat awet dan tidak bakal rusak jika tidak pernah dipakai. Apalagi bila disimpan di tempat sejuk, kering, dan terhindar dari matahari langsung. Pengen lebih awet lagi? Simpan di dalam brangkas dan dikunci lapis lima! Pasti lebih awet dan nggak bakal hilang!

2. Laptop yang tersimpan di gudang
Leptop ini mempunyai spesifikasi: setelah diproduksi disimpan di gudang, dan belum dikeluarkan. Leptop berikut juga tidak kalah awetnya. Selama yang di luar gudang belum laku, leptop ini akan tetap aman dan awet tersimpan di dalam gudang. Meskipun sudah keluar gudang juga masih awet selama masih di toko dan belum dibeli orang. Tapi kalau begitu sudah lain ceritanya.

3. Laptop yang tidak laku
Leptop berikut ini juga tak kalah awetnya. Karena tidak laku, jadi tidak ada yang beli dan tidak dipakai juga. Tersimpan terus di toko. Pemilik toko juga pastinya menyimpan leptop ini dengan baik, jadi kemungkinan rusak juga kecil. Kelemahan leptop ini hanya bila sudah laku dan dipakai orang, maka sudah lain ceritanya.

4. Laptop yang jarang dipakai
Leptop berikut juga awet tapi tidak lebih awet dari leptop-leptop sebelumnya. Karena yang punya jarang memakainya (katakanlah cuma dipakai 1x dalam sebulan), leptop ini termasuk dalam kategori awet dan tidak mudah rusak.

5. Laptop yang dipakai dengan hati-hati
Leptop berikut juga termasuk awet karena si pemilik memakai dengan hati-hati. Leptop ini lebih berguna dari leptop-leptop sebelumnya. Tetapi tidak lebih awet dari leptop-leptop sebelumnya. Selama si pemilik masih menjaga kehati-hatiannya dalam memakai dan merawat leptop ini, dia akan tetap awet dan masih bisa digunakan dengan baik.

Itulah tadi 5 leptop yang paling awet di dunia. Terimakasih atas perhatiannya. Sampai jumpa di posting berikutnya! :-D

Note: This posting is just for laugh! Nothing serious inside! :-D

10 November 2011

Pagi-Pagi Marah-Marah......

Ha...ha...ha.... Sebenarnya aku yang dimarahin. Nggak langsung secara frontal sih, sambil lalu saja. Jadi orang itu marah-marahnya nggak puas kayaknya. Ha...ha....ha...

Jadi gini ceritanya. Hari ini aku masih belum masuk kerja. Harusnya masuk malam sih, tapi karena aku rada "ndableg" jadi malah disuruh off sama bos. Daripada pagi-pagi tidur trus ke depannya bikin badan nggak enak karena cuma malas-malasan di rumah, aku pergi sepedaan. Berdua sama teman rumah sebelah, kami berdua berangkat. Jam 05.45 berangkat tapi jalan sudah cukup ramai. Beberapa motor sudah lalu lalang mengawali hari yang cerah ini. Kebanyakan tukang ojek dan beberapa tukang sayur.

Putar-putar Timika sebentar sampai agak pelosok dikit kami memutuskan pulang. Tapi lewat jalur yang berbeda dari berangkat tadi. Sengaja sedikit mutar karena belum cukup berkeringat. Kurang lebih jam 06.30 aku sampai di sebuah perempatan yang cukup lebar sehingga jalur sebelah kiri dan kanan dipisahkan oleh trotoar. Di perempatan itu belok kiri jalan terus. Aku mau jalan lurus, jadi aku ambil di bagian tengah supaya tidak mengganggu kendaraan yang mau belok kiri. Karena baru saja merah, aku jadi berada paling depan dan berada di tengah jalan tapi sudah di sebelah kanan marka jalan yang membelah untuk kendaraan yang lurus dan yang belok kiri. Aku santai saja di situ. Beberapa motor mulai berdatangan di belakangku. Begitu lampu hijau, aku langsung jalan. Biasanya langsung berakselerasi, tapi pagi itu aku lagi pengen santai saja jadi cuma berjalan tidak terlalu cepat tapi cukup mengimbangi sepeda motor yang mulai melaju. Ada seorang tukang ojek yang tadinya di belakangku, mendahului dari kiri. Dia mendahului sambil bilang, "Sepeda itu di pinggir, go**ok!", dengan penuh emosi kayaknya.

Sadar yang dimarahi aku, aku cuma mesem dengan heran. Ngapain dia marah-marah, pikirku. Aku lurus, dia juga lurus ngapain juga musti marah-marah. Memang sih setelah dari perempatan itu aku minggir karena aku masih di tengah-tengah. Tapi aku minggir setelah dia mendahuluiku. Jadi kayaknya tidak ada alasan dia terganggu karena aku mau minggir. Bahkan orang yang di belakangku saat aku mau minggir aja tidak marah, ngapain dia marah?  Aku bukannya ikut marah tapi malah merasa geli saja sama orang itu. Mungkin dia jadi nggak bisa langsung berakselerasi cepat begitu lampu hijau menyala karena terburu-buru. Tapi ngapain juga tukang ojek terburu-buru? Apa yang diburu? Orang dia tidak mboncengin penumpang? Lagian emang bisa motornya berakselerasi cepat? Dari suaranya saja sudah ketahuan itu motor tidak mungkin bisa 0-50 km/jam dalam 10 detik. Suara mesinnya kalah sama suara katupnya! Ha....ha....ha... Tipikal motor butut di Timika deh pokoknya!

Sepanjang perjalanan aku berharap ketemu atau paling tidak lihat dia lagi. Cuma pengen melemparkan senyum heran dengan mengangkat alis sebelah biar dia tambah emosi. Ha...ha...ha..... Tapi nggak ketemu ternnyata. Di jalan, kalau kau marah, kau kalah, teman!

01 November 2011

Karyawan Freeport Naik Gaji. Setuju Atau Tidak

Sudah 3 minggu ini aku dan karyawan Trakindo yang lain tidak bekerja karena demonstran Freeport "meminta" kami untuk menunjukkan "solidaritas". Mereka tidak kerja, kami pun tidak kerja. Tujuan mereka supaya Freeport berhenti beroperasi sehingga tuntutan mereka terpenuhi. Intinya mereka meminta agar gaji mereka disetarakan dengan karyawan Freeport di luar negeri yang besarnya (kata mereka) 3x lipat gaji mereka. Jadi intinya mereka meminta agar naik gaji sebesar 3x lipat. Wow! Bayangkan! Misalnya gaji mereka saat ini sudah 10 juta berarti menjadi 30 juta per bulan! Ngeri! Dan bila itu terjadi, tidak akan berdampak langsung dengan gaji karyawan Trakindo karena secara manajemen, Trakindo dengan Freeport beda pemimpinnya, beda manajemennya. Toh meskipun naik itu terjadi karena harga barang di timika naik juga karena pasar juga akan mengetahui bahwa karyawan Freeport naik gaji dan harga barang pun di naikkan. Otomatis gaji pekerja di Timika entah Trakindo, Toyota, Suzuki, dsb bakal naik. Jadi gaji naik, harga barang juga naik. Apa bedanya!? Dampaknya tidak akan berhenti sampai di Timika saja. Karyawan dari perusahaan tambang di daerah lain pun pasti bakalan menuntut perubahan pada gaji mereka. Baru membayangkannya saja sudah pusing, apa lagi mikir solusinya.

Misalnya aku ditanya, setuju atau tidak karyawan Freeport naik gaji? Jawabanku setuju. Tapi tidak sampai sebesar itu. 300%? Efeknya bakal ngeri dari segi perekonomian. Kalo orang ekonomi bilang mungkin bakalan terjadi inflasi besar-besaran. Sekarang baru isu dan belum terrealisasi naik gajinya pun kabarnya harga barang sudah ada yang naik, terutama bumbu dan bahan makanan. Entah benar atau tidak, karena aku sendiri tidak pernah masak jadi tidak pernah belanja bahan mentah. Menurutku setiap karyawan berhak menerima kenaikan gaji, tapi berdasarkan performa kerjanya juga. Misalnya kerjanya bagus, rajin dan disiplin, harusnya gajinya naik juga. Presentase naiknya pun juga ditentukan dari performa kerja. Katakanlah yang sangat rajin dan disiplin tadi gajinya naik 20%. Kemudian ada yang agak rajin, kerjaan beres tapi lambat, naik 10%, dst.

Kemudian kalau ada yang bilang, demonstran itu kan juga membela kepentingan negara? Buktinya mereka menuntut bagian yang 1% untuk negara itu dinaikkan. Saya setuju! Sangat setuju! Tapi bukan berarti bagian yang 1% itu naik dengan cara menaikkan gaji mereka menjadi 3 kali lipat. Jadi soal gaji dan bagian 1% untuk negara itu berbeda. Soal bagian Indonesia yang 1% itu, menurutku salah pemerintah Indonesia yang dulu menandatangani kontrak pertama dengan Freeport. Saya pernah melihat di TV swasta, wawancara salah seorang mantan pejabat pemerintahan yang dulu cukup berwenang soal tanda tangan kontrak dengan Freeport. Aku lupa namanya. Beliau dipandang cukup "merepotkan" bagi Freeport karena tahan suap. Saat diwawancarai, beliau mencemooh pejabat yang pada waktu itu berhasil disuap oleh Freeport sehingga kontrak yang saat ini berjalan dapat ditandatangani. Akibatnya sekarang hanya menerima 1% dari keuntungan Freeport.

Ada salah seorang temanku, dia berpendapat bahwa lebih baik Freeport dijadikan BUMN saja. Orang Indonesia yang mengelola. Sebenarnya kita bisa mengelola Freeport. Buktinya sebagian besar karyawan Freeport itu orang Indonesia. Tidak cuma karyawan non-staff. Karyawan staff pun banyak orang Indonesia. Bila kita yang mengelola sendiri, maka keuntungan dari tambang tersebut juga untuk kita sendiri, untuk negara kita sendiri. Cuma yang jadi masalah sebenarnya adalah budaya korupsi di negara kita. Itu yang membuat keuangan negara ini menjadi kacau. Tapi saya juga setuju bila Freeport itu diubah menjadi BUMN. Menurut saya itu menjadi one stop solution untuk masalah freeport ini. Dan saya yakin orang Indonesia mampu menjalankan perusahaan tambang emas terbesar di seluruh Indonesia ini, karena Indonesia bisa!!

31 October 2011

Nightmare

Senin, 24 Oktober 2011. Mungkin di pagi hari itu aku untuk pertama kalinya aku bangun pagi dan langsung tertawa geli dan merasa (doh) banget. Kok bisa bangun tidur langsung ketawa? Karena aku mengalami  sebuah mimpi buruk yang sangat bikin depresi bila itu beneran terjadi. Kok bisa, mimpi buruk malah ketawa? Karena... ini siapa sih tanyatanya terus!? Baca aja kenapa!?

Gini nih, mimpinya. Aku jadi anggota fotografernya NatGeo Indonesia. Wuih! Keren kan? itu salah satu impianku selain jadi engineer. Di dalam mimpi itu, aku anggota baru. Tapi sudah dipercaya berangkat ke Afrika untuk mengambil foto seekor hiu dari dekat. Wuih! Bayangin tuh! Aku punya perlengkapan kamera bawah air yang harganya selangit itu! Kapan bisa punya beneran ya? Selesai mengambil foto, karena tempatnya di pinggir pantai yang berkoral dan berkarang tajam, aku dan seorang fotografer lain (cewek kalau tidak salah) dijemput menggunakan helikopter. Anehnya, aku dan fotografer itu tidak dinaikkan ke dalam cabin, hanya digantung dengan sebuah tali di luar heli. Memacu adrenalin banget deh pokoknya!

Sesampai di base-camp, aku taruh tas berisi kamera dan perlengkapannya di dalam sebuah ruangan, tanpa memeriksanya terlebih dahulu dan segera keluar karena ada salah seorang tim yang lagi ulang tahun. Ikut meramaikan gitu. Anehnya lagi, kok orangnya bisa jadi banyak banget, padahal pahamku itu cuma base-camp sementara yang digunakan untuk tim pengambil  foto hiu tersebut. Lebih anehnya lagi, kebanyakan orang-orang yang rame itu wajahnya tidak asing semua karena kalau di kehidupan nyata, mereka adalah orang-orang Trakindo. Salah seorang temanku (orang Trakindo dan ngekost di sebelah kamarku) menyuruhku mengambil kamera dan foto-foto bersama. Aku merasa oh, iya, ide bagus. Aku kembali ke dalam ruangan di mana aku menaruh kameraku dan mengambil tasnya. Dan ternyata kameraku tidak di dalam tas itu! Deg! Mungkin wajahku di dalam mimpi itu langsung pucat pasi. Seingatku pada saat di jemput dari pantai aku lupa mengancingkan tasku sehingga kameranya terjatuh. Panik, sedih, nggak tahu harus ngapain, aku cuma mengobrak abrik seisi ruangan itu, berharap kameraku ketemu tapi aku juga tahu pasti tidak akan ketemu karena sudah terjatuh entah di mana. Rasanya seperti kehilangan separuh jiwa (buset deh bahasanya...). Sperti seorang marinir kehilangan senapannya. Seperti seorang koki kehilangan spatulanya. Seperti seorang fotografer kehilangan kameranya (lah, memang....). Depresi banget pokoknya.

Aku pun kembali ke tempat teman-teman ngumpul, bilang ke temanku yang tadi kalau kameraku hilang, terjatuh pada saat kembali dari laut. Aku cuma duduk dan merasa kacau, tertekan, sedih, pokoknya campur aduk deh! Stres total pokoknya! Dan terasa nyata sekali seperti aku benar-benar kehilangan kameraku. Di awal karirku sebagai fotografer NatGeo Indonesia, aku harus kehilangan kamera kesayanganku. Tiba-tiba aku membuka mata dan refleks memandang ke arah lemari tempat aku menyimpan kameraku dan segera sadar bahwa itu cuma mimpi. Aku langsung tertawa (tapi cuma pelan, tidak sampai terbahak-bahak) sambil menempuk jidatku, sadar bahwa kameraku tidak hilang dan masih tersimpan rapi di dakam dry box-nya. Rasanya seperti dikerjain. Langsung bangun ternyata udah jam 05.00 a.m dan langsung ambil air wudhu dan sholat subuh.

Begitu ceritanya aku bangun tidur langsung tertawa. Mungkin baru kali ini aku bangun tidur langsung tertawa. Seingatku sebelumnya belum pernah.

30 October 2011

A Little Bit Change In My Bathroom and Behind My Backdoor

Well, sudah semingguan ini aku punya kamar mandi baru. Bukan baru semuanya sih, cuma ada "sedikit" perubahan. Bak mandinya tidak ada digantikan dengan sebuah ember raksasa yang menurutku lebih terlihat seperti sumur, saking besarnya. Kalau dilihat volume ember ini lebih besar dibandingkan dengan bak mandi yang lama, karena bak mandi yang lama hanya berukuran kecil. Mungkin 50cm x 50 cm. Memang kamar mandi konsep minimalis :) (bilang aja kamar mandinya kecil....).

Semula berawal pada suatu malam, malam ahad tanggal (waduh! mau liat kalender tapi tertutup alas kasur... Kasurnya lagi dijemur sih...) 22 Oktober 2011, habis sholat isya' seminggu yang lalu. Saat sedang berjalan pulang dari musholla, tiba-tiba bapak kost menepuk bahuku dari belakang. Beliau bilang kamar mandinya ada yang bocor sehingga merembes ke lantai bawah tepat di kamar mandi lantai 1 (kamar kost ku berada di lantai dua, di bawahnya kamar mandi kamar kost lantai 1). Aku menyetujuinya dan bertanya kapan akan dimulai. Beliau bilang besok Ahad pagi. Betul juga, pagi-pagi sekitar jam 7.30 a.m, mulai terdengar hantaman palu dari arah kamar mandiku. Dari pagi hingga sore selesai pekerjaan membongkar kamar mandi plus lantainya. Puing-puingnya dibiarkan berserakan di belakang rumah, di depan pintu belakang.

3 hari penuh kamar mandiku tidak efektif, tidak bisa digunakan. Jadi kalau mau mandi atau bahkan sekerdar buang air kecil harus numpang dulu di kamar sebelah. Kamar sebelah juga teman sendiri jadi enak saja. Akhirnya kemarin hari rabu, 26 September 2011 kamar mandiku sudah bisa digunakan. Semennya sudah kering dan bapak kost sudah membelikan ember raksasanya. Awalnya aku kira nggak enak mandi dll menggunakan ember untuk penampungan airnya meskipun embernya besar. Tapi ternyata ada segi positifnya juga. Selain volume air yang ditampung semakin banyak, kalau nyuci baju juga lebih enak karena lebih luas. Tapi sampai sekarang efek sampingnya belakang rumah jadi tampak kumuh dan berantakan karena puing-puing kamar mandi lama belum juga dibersihkan.

16 October 2011

Buber 3E SMP N 1 Bantul Angkatan '05

Foto ini diambil kemarin aku cuti. Hari Sabtu, 27 Agustus 2011 anak-anak ngadain buber. Bertempat di RM Bantul Ayam di jalan Parangtritis, 20 orang berkumpul meramaikan acara buber tersebut. Bahkan ada yang baru mudik dari banten langsung menuju lokasi. Belum sempat istirahat, apalagi mandi langsung ke lokasi membawa ransel yang besar, demi kumpul bersama teman. Seharusnya 1 kelas ada 40 orang tapi cuma 20 yang datang. Ada yang memang tidak bisa karena ada acara, ada yang karena tidak bisa pulang terlalu larut, ada yang tidak bisa hadir karena suatu hal yang sulit dijelaskan. Tapi kebanyakan loose contact, nggak punya nomer hp ataupun akun fesbuk. Meskipun cuma 20 orang, tapi tetap seru. Ada acara tukar kadonya juga. Aku dapat novel tinlit judulnya Obsesi Cinta Sang Primadona. Tapi sayang, bukunya malah ketinggalan di Bantul, nggak kebawa ke sini.

Kalau pulang cuti kebanyakan kumpulnya sama temen-temen SMP. Banyak hal-hal indah dan menyenangkan terjadi di masa-masa SMP. Orang-orangnya juga menyenangkan sih. Ada juga yang nyebelin tapi tetep ngangenin. Next aku cuti kita kumpul-kumpul lagi guys! 

Timika Seminggu Ini

Moshi moshi! Dah sekian lama nggak update Blog. Terakhir kapan ya? Kalau nggak salah bulan Mei ya? It was long time ago, right. Hari ini, Ahad, 16 Oktober 2011 libur lagi. Sudah Hampir seminggu tidak bisa masuk kerja. Seminggu ini cuma hari Senin kemarin (10 Oktober 2011) saja bisa masuk kerja. Demonstran Freeport "meminta" kita tidak masuk kerja.
Selasa, 11 Oktober 2011, bis jemputan yang biasa mengantarku kerja dicegat di depan Diana Mini Market. Semua bis karyawan dicegat dan semua penumpangnya disuruh turun. Tidak ada yang boleh kerja. Padahal kita karyawan Trakindo yang jelas jelas beda manajemen dengan Freeport. Tapi mereka tetep bersikukuh melarang kita berhenti bekerja. Katanya Trakindo itu di bawah Freeport. Enak saja! Tapi ya sudahlah! Memang begitu watak masyarakat pribumi dan lagi sakit hati. Sebulan yang lalu sebenarnya sudah mulai demo, tapi kita masih lancar masuk kerja. Tapi seminggu terakhir ini bisa dibilang situasi memanas. Gara-gara seorang masyarakat pribumi yang demonstran Freeport juga, tertembak mati pada hari Senin. Makannya hari selasa mereka sedikit kasar waktu menyuruh kita tidak masuk kerja. Kasar tapi nggak ada main pukul. Cuma membentak saja. Alhasil sejak hari Selasa sampai Jum'at kemarin tidak masuk kerja.
Awalnya merasa asyik juga nggak kerja. Tidur di rumah, main game, jalan-jalan, dsb. Tapi 2 hari nggak kerja terasa juga jenuhnya. Bingung mau ke mana. Jalan-jala cuman di situ-situ saja, di rumah juga cuman nonton TV sama main game. Pokoknya jadi terasa jenuhnya. Kupikir nganggur itu enak, ternyata baru nganggur 2 hari saja sudah jenuh. Malah stres di rumah. Sebenarnya Rabu sore 12 Oktober 2011, bos memintaku masuk kerja. Dia telfon katanya aman, bakal dijemput taksi gelap. Dia bilang sudah 2 hari ini dia pakai metode itu untuk berangkat kerja, dan aman. Katanya 3 orang yang ditunjuk termasuk aku. Tapi aku menolaknya. 70% takut, 30% males. Soalnya konsentrasi massa saat itu di gedung DPRD yang letaknya tidak jauh dari rumah kostku. Bosku bilang nggak ada paksaan jadi aku bisa menolaknya. Besoknya aku sedikit menyesal nggak menolak disuruh kerja. Teman satu kostku masuk dan aman-aman saja. Seharian itu jenuh sekali di rumah. Nggak ada kegiatan. Mau telfon bos minta masuk kerja tapi takut dikira menjilat. Ya sudahlah! seminggu ini nganggur di rumah. Pengen rasanya besok Senin masuk kerja. Tapi kabarnya korban luka tembak insiden hari Senin kemarin akhirnya meninggal tadi malam. Kabarnya termasuk masyarakat 7 Suku. Entah informasi ini benar atau tidak, tapi yang blang temanku yang juga demonstran. Jika kabar itu memang benar, besok Senin kemungkinan besar rame lagi. Dan terancam tidak masuk kerja lagi.

30 May 2011

The Effect of Tough Night

Well. Ternyata efek dari "Tough Night" kemarin tidak cukup sampai kemarin saja. Efeknya terjadi sampai pagi ini.

Memang kemarin sudah tidur dari pagi sampai jam 12.30 p.m. Cukup lama (sangat lama malah) setengah hari penuh. Tapi tidur setengah hari cuman banyak di kuantitasnya saja. Kualitas tidak baik. Bangun tidak fresh. Kalau menurut sebuah artikel yang pernah kubaca dulu, bila dalam tidur kita bermimpi, berarti tidur kita tidak nyenyak. Semakin terasa nyata mimpinya, semakin tidak nyenyak tidur kita. Entah benar atau tidak artikel itu, tapi aku percaya dan kurasakan begitu. Kemarin tidur aku bermimpi sangat nyata dan mengganggu pikiranku sehingga bangun pun jadi tidak segar dan hati tidak enak.

Bangun langsung diajak makan sama teman. Makan gado-gado favorit di depan gang masuk ke rumah kost-ku. Enak karena mungkin ibu-ibu yang jual orang Jawa (dari Jember). Relatif lebih mahal dari penjual gado-gado lain di Timika tapi lebih enak dan mengenyangkan. Kalau yang lain mungkin Rp. 10.000,- seporsi, tapi kalau di situ Rp. 13.000,- seporsi. Selain itu dekat juga karena tinggal jalan ke depan sedikit saja.

Habis makan juga tidak pergi ke mana-mana lagi, jalan-jalan atau main ke suatu tempat. Cuma belanja sebentar ke minimarket dekat rumah. Sabun mandi dan stok cemilan habis. Setelah itu pulang dan sampai rumah juga cuma nonton film The Pacific sama main game. Kalau dilihat seharian tidak ada kegiatan yang menguras tenaga atau bikin capek. Malamnya juga seperti biasa setiap malam Senin ada liqo'. Memang kadang-kadang tempatnya agak jauh dari rumah, tapi semalam cuma di mushola dekat rumah saja. Tidak terlalu jauh.

Pulang liqo' jam setengah sepuluh, trus pergi beli sate (juga di depan gang) trus makan malam sambil nonton The Pacific lagi. Selesai sekitar jam 10.20 p.m dan langsung beranjak tidur. Tidur jam segitu masih tergolong tidur awal bagiku. Tapi kok bisa-bisanya bangun tadi pagi jam 05.08 a.m. Sudah sangat telat itu. Alarm memang sudah bunyi (3x malah). Tapi tiap kali bunyi langsung ku matikan dan aku berusaha bangun rasanya berat banget. Kaget bangun jam 05.08 a.m langsung lari ke kamar mandi, mandi, ambil air wudhu, trus berpakaian trus sholat subuh. Harapan masih bisa berangkat jam 05.15 a.m tepat saat bis pagi berangkat tapi jam segitu baru selesai berpakaian (aku kalau mandi lama sih...). Akhirnya nanti ikut bis jam 06.30 a.m saja ikut bis orang kantor. Dan sekarang berakhir di depan komputer menyambung ke internet dan mengetik posting ini sambil menunggu jam 06.30 a.m tiba. :)

29 May 2011

What a Tough Night

Night shift. Night shift = membalik hidup. Yang tadinya siang bekerja menjadi tidur. Yang tadinya malam tidur menjadi malam bekerja. Yang tadinya makan siang jam 12.00 p.m menjadi makan malam jam 00.00 am. Semuanya jadi terbalik. Tapi enaknya kerja tidak underpressure karena bos tidak ada yang masuk. "Atasan langsung" hanya seorang leader yang masih bisa dibilang mekanik. Jadi tidak terlalu mengekang.

"Jabatan"-ku di tempat kerja sebenarnya Inspector (a.k.a tukang ukur). Jadi part yang habis dibongkar dibawa masuk kemudian ku periksa apakah masih layak pakai atau tidak. Identiknya diukur menggunakan berbagai macam alat ukur untuk mengetahui ukurannya masih masuk spesifikasi standar atau tidak. Makannya bisa dibilang tukang ukur. Malam pertama sampai malam ke-4 aku masih menjadi inspector karena barang yang dibongkar banyak juga. tapi masuk malam ke-5 kerjaanku habis. makannya aku dialihkan ke bagian assembly. Kerjaanku bukan mengukur lagi, tetapi merakit part-part yang tersedia menjadi sebuah komponen hidrolik utuh. Jadi biasanya bergulat dengan alat ukur menjadi bergulat dengan kunci dan oli. Tidak masalah, karena itu juga bagian dari skill-ku.

Aku termasuk masih amatir (sangat amatir malah) dalam hal assembly. Belum lincah, masih kebanyakan bingung dan tidak tahu caranya. Tapi leaderku melepasku begitu saja dan hanya turun tangan membantu kalau aku memang benar-benar mengalami kesulitan. Dan itu mauku. Jadi aku cepat bisa dan mempunyai pengalaman sendiri. Disamping itu, ada rasa bangga juga kalau bisa menyelesaikan satu komponen sendirian tanpa campur tangan orang lain.

Selama 2 pekan masuk malam kali ini, bisa dibilang 70% aku kerja di bagian assembly. Pekan ke-2 full ke bagian assembly. Hingga malam terakhir (tadi malam) aku pun kerja di bagian assembly. Tapi semalam aku kerja sendirian. 2 komponen diserahkan kepadaku penuh. Malam-malam sebelumya temanku ada sedikit membantu. Tapi kali ini semua sibuk sehingga aku kerja sendirian. Yang bikin capek sebenarnya bukan pekerjaan assembly-nya seperti mengencangkan baut dengan torque yang besar dan sebagainya. Komponen yang ku kerjakan semalam sebenarnya tidak terlalu besar meski harus mengencangkan baut dengan torque 600 lb.ft (atau sekitar 800 N.m), dan sebuah mur dengan torque 4700 lb.ft (justru ini malah ringan karena menggunakan tool otomatis, tinggal pencet sebuah tombol). Itu termasuk komponen sedang dan mudah merakitnya. Yang bikin capek justru jalan kesana kemari cari komponen lah, cari tool-lah (karena harus berjalan ke section lain buat pinjam tool). Sebenarnya bisa diatasi dengan mempersiapkan segalanya di dekatku. Tapi itulah kekuranganku karena aku masih amatir jadi belum bisa mempersiapkan apa-apa yang diperlukan dengan baik.

Pada saat melakukannya aku belum merasa capek. Justru rasanya segar. Cuman begitu selesai langsung terasa capeknya. Aku selesaikan segalanya sampai merapikan tempat kerja dan membereskan part-part sisa tepat setengah jam sebelum bel pulang. Begitu duduk istirahat sambil menunggu bel pilang, mata langsung terasa berat, badan capek semua terutama kaki rasanya pegal. Di perjalanan pulang pun aku tidur di dalam bis sepanjang perjalanan pulang. Sampai di rumah rasanya menyenangkan sekali lihat kasur dan bantal. Tanpa ganti baju (ih! jorok...) langsung tewas terkapar di kamar....