31 August 2009

Ramadhan, 10th 1430H

Karena siangnya kecapekan bikin jemuran baju dan belanja perabot tambahan, malamnya, malam tanggal 10, pelupuk mataku terasa begitu berat. Mata pedih, badan pegal-pegal, dan perut sedikit kembung. Jadinya semalam nggak tadarusan. Tarawih saja jadi nggak di masjid. Gara-gara tiap hari sahur cuma makan mi instan saja jadinya malah kena diare. Habis tarawih nggak bisa tadarusan karena badan capek semua. Bangun tidur buat sahur saja males banget. Rasanya badan ini masih capek.
Jama'ah subuh kali ini cuma 2 shaf saja yang terisi. Mungkin karena hujan jadi pada males pergi ke masjid. Jama'ah isya'nya tetap 2 shaf yang kosong. Nggak banyak perubahan.
Seharian ini nggak terasa capek. Soalnya aku bisa sahur pakai nasi, dan tanpa mi!

Ramadhan, 9th 1430H

Astaghfirullahal'adziim! Hari ke-9 ini adalah hari yang paling hancur dalam 9 hari terakhir. Siangnya aku sampai benar-benar emosi. Sangking emosinya sampai aku memaki-maki nggak jelas seperti preman pasar murahan. Menyebalkan banget. Siang itu aku dkk gotong royong bikin jemuran baju. Entah benar atau tidak yang jelas aku merasa paling banyak bekerja, sedangkan temen-temenku, sebagian sih, cuman duduk di tempat teduh gitu sambil ngompor-ngomporin aku. Aku yang memang tempramental jadinya kepancing dan kumaki-maki saja mereka. Yang lebih menyebalkan lagi mereka malah ketawa-tawa liat aku mencak-mencak nggak jelas. Huh! Udah panas-panas dipanas-panasin lagi! Dari situ aku memetik pelajaran jangan sampai terpancing untuk kedua kalinya. Kalau ada cobaan yang sama aku harus cepat sadar dan bersabar.
Alhamdulillah di hari ke-9 ini aku bisa tadarus semaksimal mungkin. Kalau nggak salah bisa dapat 4 juz. Tapi itu masih kurang karena target belum terpenuhi. Dan buat catatan saja, jama'ah tarawih dan sholat isya'nya masih sama, 2 shaf terakhir kosong. Lain halnya untuk jama'ah subuh. Karena hari libur jadinya bisa sampai 4 shaf yang terisi. Alhamdulillah mengingat kemarin cuma 3 shaf saja.

30 August 2009

Ramadhan, 8th 1430H

Ternyata rencana kemarin tanggal 7 Ramadhan buat mborong sampai juz 18 tidak kesampaian. Bisa nambah sih, tapi cuma sampai juz 9 saja. Kurang sembilan juz lagi. Ah! Dasar menyebalkan! Being istiqomah is not easy! Caranya gimana ya biar bisa istiqomah?
Ya wes. Let's back to semalam, tentang jama'ah tarawih di masjid. Masih tetap, 2 shaf paling belakang kosong. Semangat belum menunjukkan penurunan lebih jauh. Tapi aku yang biasanya nambah raka'at sesampai di rumah, semalam tidak. Sebagai gantinya aku nambah raka'at sebelu tahajjud. Jadi sahurnya aku paling akhir.
Jama'ah subuh alhamdulillah masih tetap aktif. Tapi di hari ke-8 ini ada 5 shaf yang kosong, bukan yang terisi. Alias 3 shaf saja yang ada.
Hari ini aku libur kerja, jadi bisa ikut dengar ceramah ba'da subuh. Ustadz yang ceramah yang dari Jawa Timur favoritku. Menyenangkan sekali ceramahnya, khas ustadz dari Jawa.

29 August 2009

Ramadhan, 7th 1430H

Nggak terasa dah masuk hari ke-7. Sudah seminggu puasa, tapi tadarusanku belum habis separuh Qur'an. Padahal kalau mau 2 kali khatam dalam sebulan ini, minggu pertama harus paling tidak dapat 15 juz. Lha ini baru sampai juz 7. Huaduh! Harus mborong nih. Besok pas off harus bisa mborong at least sampai juz 18. Kita lihat saja besok.
Yang menyebalkan adalah baru masuk hari ke-7 semangat sudah mulai kendor. Kesehatan juga kendor. Mulai flu dan batuk. Di workshop jadi ngantuk. Muka jadi nggak mbentuk dan tertekuk-tekuk. Benar-benar nggak enak.
Jama'ah tarawih di masjid mengesankan. Shaf ke-7 mulai bolong. Semangat mulai ompong. Jama'ah subuh jadi 3 shaf saja. Padahal baru 7 hari pertama.

28 August 2009

Ramadhan, 6th 1430H

Alhamdulillah. Tadi malam buka puasa dengan nikmat. Maksudnya bisa lebih nikmat dari biasanya. Nggak tau kenapa. Padahal lauk makan bukanya sama saja. Yang jelas di hari ke-6 ini tadarusanku bisa sedikit lebih banyak. Habis tarawih di masjid tadarusan dapet 1 juz, paginya sebelum ke masjid buat sholat subuh bisa nambah beberapa lembar. Lumayan lah! Ada peningkatan.
Tapi semalam hampir saja aku tidak jama'ah isya' dan tarawih di masjid. Gara-garanya sebelum adzan sempat hujan jadinya tergoda untuk membaringkan badan. Tapi untung salah satu temenku bersiap-siap jadi aku ter-provokasi dan ter-motivasi dan segera sadar.
Jumlah jama'ah saat sholat isya' dan tarawih sama seperti kemarin, shaf ke-8 tidak terisi. Sholat subuh demikian juga. Berkisar antara 3-4 shaf yang terisi.
Kerjaan di hari ke 6 ini cukup banyak. Yang jelas satu selesai, satu masuk. Bahkan di saat terakhir ada yang masuk jadi belum tersentuh. Walau kerjaan banyak tapi aku tidak merasa lemas karena saat sahur bisa makan nasi. Gula darah jadi lebih stabil.

27 August 2009

Ramadhan, 5th 1430H

Alhamdulillah buka puasa mengakhiri hari ke-4 dan mengawali hari ke-5 di bulan Ramadhan ini. Lebih bersyukur lagi karena habis tarawih bisa tadarusan walau cuma 1 juz. Baru sampai juz 3. Kalau tetap begini terus tidak akan memenuhi target nih! Harus ditingkatkan.
Sayang. Semangat jama'ah isya' dan tarawih di masjid sudah mulai surut. Jama'ah putra semalam tidak lagi luber sampai serambi. Bahkan shaf paling belakang sama sekali tak terisi. Jama'ah subuh lebih terlihat lagi penurunannya. Kalau hari pertama
Bisa sampai 4-5 shaf yang terisi, tadi pagi cuma 3 shaf saja. Shaf ke-4 cuma terisi sedikit saja. Memang, being Istiqomah is not easy.
Di workshop seharian tadi tidak ada job. Cuma ada 1 job saja yang aku kerjakan. Itu pun sudah selesai pas coffee time, jam 9.00. Enak sih sebenarnya karena badan ini jadi tidak capek. Walau begitu juga tidak enak juga sama bos.

Ramadhan, 4th 1430H

Menyebalkan sekali. Nggak pernah mau tadarus selama 2 hari terakhir ini. Semalam mati lampu sedari sore sampai malam. Nggak tau jam berapa hidupnya. Kata temenku jam 12an. Jadinya mau tadarus habis maghrib sudah mahal, habis tarawih juga malas jadinya. Harus dihilangkan kalau mau memenuhi target. Ah! Sial.
Jama'ah tarawih masih tetap full di masjid, tapi untuk jama'ah subuh kayaknya sudah mulai berkurang. Tanda tanda berkurangnya semangat sudah mulai terlihat.
Di worksho aq sudah mulai merasakan cobaan yang lebih berat. Rasa haus dan lapar mulai mengganggu dan mempengaruhi semangat kerja. Kalau mau profesional harus dihilangkan nih! Orang profesional harus punya toleransi yang tinggi terhadap perubahan keadaan kerja.

24 August 2009

Ramadhan, 3rd 1430H

Efek dari rasa capek yang kuderita aku buka puasa kebanyakan minum. Makan ambil sedikit saja nggak habis. Efek pas sholat isya' belum terasa, tapi pas kultum aku sama sekali nggak memperhatikan apa yang disampaikan. Terkantuk-kantuk bo! Tapi anehnya pas tarawih nggak ada masalah. Seger-seger aja.
Semalam aku pindah dari hotel ke rumah kontrakan. Jadi semalam dah tidur di kontrakan baru. Alhasil jadi rada susah tidur dan nggak bisa tadarusan habis tarawih. Payah deh! Makan sahur juga jadi seadanya karena nyiapin sendiri. Sekedar pengisi perut. Terdiri atas roti, susu, telur rebus, dan mi instan. Yang penting ada modal energi.
Hari ini hari pertama kerja di bulan ramadhan. Wuih! Capeknya! Padahal kerjaanku cuman inspect komponen gitu, yang notabene tidak perlu tenaga besar buat muter baut. Tapi kadang butuh tenaga juga sih kalau mau ngangkat barang berat.

23 August 2009

Ramadhan, 2nd 1430 H

Adzan maghrib berkumandang, menandakan waktu buka, berakhirnya tanggal 1 Ramadhan dan berawalnya tanggal 2. Sama seperti kemarin, sholat maghrib di kamar hotel saja, tidak jama'ah di masjid. Sebabnya sama seperti kemarin, gara-gara nonton televisi juga. Payah deh! Besok kalau sudah pindah ke kontrakan pasti bisa jama'ah di masjid, karena so pasti di sana nggak ada televisi. Tapi semalam sholat maghribnya lebih awal dan habis sholat bisa tadarus. Cuman sedikit sih, cuman 89 ayat. Al-Baqoroh 1-89. Gara-garanya belum terbiasa memakai Qur'an kecil. Tapi ku pikir cuma alasan saja. Mungkin lebih tepat karena aku nggak pernah tadarus, jadinya nggak fasih.
Alhamdulillah sholat Isya' dan tarawihnya bisa di masjid. Tapi semalam aku ngerasa nggak begitu memperhatikan kultumnya. Pembicaranya bukan yang kemarin malam. Kalau yang kemarin malam adalah seorang ustadz dari Jawa Timur, dan yang semalam nggak tahu dari mana. Yang jelas aku merasa nggak interested saja, dan seolah jama'ah yang lain juga tidak banyak yang mendengarkan dengan serius. Atau mungkin perasaanku saja, nggak tau ah! Tidak seperti kemarin, aku semalam bolos tarawihnya pas mau sholat witir. Jadi dapat 8 raka'at aku pulang dang ngelanjutin sampai raka'at ke 20. Terus witirnya belakangan sekalian buat nutup tahajjudnya. Dan alhamdulillah bisa terlaksana karena aku bisa bangun jam 3.09 WIT.
Jama'ah subuh dan ceramah subuh juga tidak terlewatkan. Alhamdulillah. Pembicaranya ustadz yang kemarin malam. Tidak seperti semalam, aku mendengarkan apa yang beliau sampaikan. Tidak tahu kenapa, yang jelas aku lebih cocok saja dengan beliau. Kalau menurutku secara teknis beliau lebih entertaining, dengan bahasa tubuh yang bervariasi. Terbukti dengan tangannya tidak cuma diam saja, tapi bergerak seolah menegaskan apa yang disampaikan. Disamping itu cara penyampaiannya juga bagus dan mendalam terus tema yang di usung juga menarik, at least menurutku.
Sepulang dari masjid alhamdulillah aku bisa tadarusan. Kali ini jauh lebih banyak daripada semalam. Terakhir sampar Al-Baqoroh 252. Harus lebih karena targetku kali ini bisa khatam 2 kali dalam sebulan ini.
Ternyata sehari tadi sangat melelahkan. Jalan keliling kota cari perabotan untuk rumah baru. Kaki serasa habis lari marathon. Fiuhh... Rencana mau tadarus habis 'asyar nggak jadi gara-gara super capek. Buka puasa jadi terasa nikmat sekali.

Ramadhan, 1st 1430

The first night
Awal yang nggak terlalu baik. Nggak jama'ah maghrib. Padahal justru penting banget tuh bisa jama'ah sholat maghrib. Gara-gara televisi, jadinya tergoda deh.
Tapi sholat isya' dan tarawihnya di masjid dong tentunya! Masjid full! Penuh banget. Shaf pria sampai mentok, 8 shaf terisi semua, bahkan ada yang di serambi. Untuk yang wanita full juga, tapi nggak tau sampai serambi atau tidak. Yang jelas saat aku duduk menunggu iqomah, aku jadi ingat sebuah masjid di Sangatta dulu. Namanya aku lupa. Yang jelas saat itu aku merasa cocok saja di sana. Jadi kangen...
Ku kira tarawih di sini 23 kali, ternyata cuma 11 kali. Jadi habis dari masjid di rumah nambah lagi. Di kampungku mayoritas 23 kali, jadi sudah terbiasa dan kalau tidak 23 kali rasanya ada yang kuran. Kurang mantab.
Satu hal lagi yang disayangkan. Malam tanggal 1 aku sama sekali tidak tadarus. Payah nih. Rencana habis tahajjud, tapi di luar dugaan aku baru bangun sahur jam 3.30 WIT. Jadi aku sahur dulu baru tahajjud. Jadinya nggak tadarus sesuai rencana.
Jama'ah subuh di masjid plus ndengerin ceramah kuliah subuh bisa kuhadiri juga, karena aku libur sabtu ini. Tidak sebanyak pas tarawih malamnya, cuma 3 shaf pria yang terisi. Shaf wanita nggak tahu gimana. Pulang dari masjid bukannya tadarus tapi malah ngobrol sama temenku sampai pagi. Payah deh! Aja ada godaannya.
Menjelang siang temenku ngajak berburu perlengkapan tidur, karena besoknya, hari Ahad sudah mau pindah ke rumah kontrakan. Selama ini masih di hotel. Ke pasar juga cuma jalan kaki. Kali ini godaannya cuman lapar sama haus saja. Tapi pas masuk pasarnya, bau tak sedap khas pasar tradisional bikin kepala agak pusing juga. Di tambah lagi godaan mata kalau ada cewek ngumbar aurat, waduh! Harus extra hati-hati kalau jalan-jalan ke luar.
Well, seharian nggak ada yang spesial. Yang jelas perlu peningkatan.

16 August 2009

What I can do and what I can't do

Tiap orang punya sesuatu yang bisa dilakukan dan yang tidak bisa dilakukan. Aku dapat statement itu dari komik one piece volume awal. Walau aku dapat dari sebuah komik, tapi statement itu ada benarnya juga. Menurutku hal itulah yang menjadikan manusia makhluk sosial. Saling membantu dengan kelebihan masing-masing untuk menutupi kekurangan masing-masing. Karena itulah manusia membutuhkan teman. Tidak mungkin seseorang hidup dengn normal tanpa bantuan orang lain. Mudahnya saja seorang dokter punya kelebihan menyembuhkan orang tapi juga membutuhkan seorang mekanik membetulkan kendaraanny. Itu sekedar contoh simpel saja. Banyak contoh lain yang lebih komplex.
Jadi kita tidak perlu minder dan membuat kita patah semangat karena tidak bisa melakukan sesuatu yang memang kelemahan kita. Justru karena perbedaan kemampuan itulah hidup manusia menjadi lebih beragam, lebih berwarna. Bayangkan bagaimana jadinya bila seseorang mempunyai kemampuan yang sama. Dunia akan monoton dan tidak berwarna. Tidak ada kehidupan sosial, tidak ada hubungan antar manusia. Bisa dipastikan tidak akan ada sistem yang bekerja.

12 August 2009

The Curse of Borneo

Note: Judul di atas cuman hiperbolik saja. Tidak ada unsur mistik dan sesuatu yang kejan dan menyeramkan di dalamnya.
“Barang siapa yang pernah datang dan meminum air dari Kalimantan, maka dia akan merasa ingin kembali ke Kalimantan”
Begitulah menurut pendatang yang tinggal di sana. Awalnya aku tidak percaya dan yakin tidak akan merasa ingin kembali ke Kalimantan setelah meninggalkannya.
Ternyata aku salah. Dan pernyataan itu benar. Setelah tinggal di Timika, Papua Tengah selama 2 minggu terakhir, aku merasa ingin kembali saja ke Kalimantan. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Di antaranya masjid jarang di sini, pendatang dari Jawa juga relatif lebih sedikit. Kalau yang berhubungan dengan pekerjaan, cara kerja mekanik sini dengan yang di Sangatta berbeda, jauh berbeda. Masih banyak lagi sebenarnya sebab lain. Yang jelas sepotong hatiku telah tertinggal di Sangatta (Set dah! Jadi melow dah!). Aku sudah merasa “in home” di sana.
Ah! Mungkin itu karena aku belum begitu terbiasa saja di sini jadi belum merasa “in home” di sini. Tinggal tunggu tanggal mainnya saja aku merasa “in home” di sini.
But the curse of borneo is real!

11 August 2009

Hiyyy... Doggy!

Pengalaman konyol yang menyebalkan pada saat aku cari rumah sama temen-temen seminggu yang lalu.
Setiap muslim tahu kalau air liur anjing itu najis yang paling berat. Cara membersihkannya spesial, dan menurutku sulit juga. That's why aku takut sama anjing disamping merasa ngeri juga kalau digigit.
Waktu itu aku tanya sama seseorang yang sedang duduk-duduk di teras rumahnya, ada nggak rumah yang masih kosong. Dia bilang jalan depan rumahnya lurus saja terus ada belokan ke kiri, rumahnya disudut belokan itu. Aku sama temen-temen berjalan ke arah yang ditunjukkan dan sampailah pada sebuah rumah bepagar besi dengan halaman kecil yang ditanami beberapa tanamam hias dan rumput manila. Rumah berlantai dua dan berteras kecil iv tampak sepi-sepi saja. Aku berniat membuka gercng dan masuk karena tidak terlihat ada bel di pintu pagar saat seekor anjing tiba-tiba menggonggong. Aku kaget setengah mati karena pada dasarnya memang takut anjing. Tulang punggungku terasa lemas. Wuih!!mantab! I hate dog!

09 August 2009

Senandung Bulan Puasa

Iki sasi Ruwah, nuli sasi poso
Kuwajiban kito kudu poso
Sesasi lawase ora mangan ngombe
Esuk tekan sore sakrampunge
Yen wis rampung poso sembahyang rioyo
Podho suko-suko suko samyo
Lan halal bi halal marang wong tuwane
Ugo marang konco lan kancane

Itu lagu yang biasa dilantunkan tiap tahun saat bulan puasa di masjid di desaku. Dari dulu sejak kecil hingga saat ini lagu itu masih ada. Ada suatu kesan tersendiri saat mendengar atau menyanyikan lagu itu. Seperti merasakan semangat bulan Ramadhan.

05 August 2009

Ramadhan Sebentar Lagi

Hey hey! Sekarang sudah tanggal 14 Sha'ban 1430. It's mean that bulan penuh barokah yang ditunggu-tunggu tiap muslim beriman di seluruh dunia sebentar lagi datang.
Kita masing-masing pasti punya target tersendiri untuk benar-benar memanfaatkan barokah bulan Ramadhan. Semaksimal mungkin memanfaatkan hari demi hari untuk mendapatkan barokah bulan Ramadhan. Apa lagi kalau kita bisa beribadah dan beramal dengan maksimal di lailatul qadr. Wuih! Mantab! Kalau ingin mendapatkannya ya tiap hari, tiap malam kita beribadah semaksimal mungkin. Dengan begitu kita pasti mendapatkannya.
Yang jelas menurut pengalamanku di setiap bulan Ramadhan, semangat kita mengendur pada pertengahan bulan. Menjelang pertengahan bulan, jama'ah yang tarawih di masjid berkurang. Kalau tadarus awal bulannya bisa mencapai 1 juz per hari, pertengahan bulan mungkin cuma setengah juz saja. Memang, being istiqomah is not easy. Istiqomah memang tidak mudah. Karena tiap manusia punya rasa bosan. Tapi ini ibadah! Kok bisa-bisanya kita bosan!?
Well, ayo coy kita ubah jalan pikiran kita! Semangat!
B-)

Boros "eee..."

Hahaha...
Memang mudah mencari kekurangan orang. Apa lagi kita pernah melakukan kesalah yang sama.
Hihihi
Pada saat briefing safety sebelum kerja kemarin materi dibawakan oleh supervisorku. Sebut saja namanya pak Sigit. Beliau membawakan materi tentang manfaat buah semangka. Apa hubungannya dengan safety dalam bekerja? Memang nggak ada hubungannya secara langsung. Briefing ini sebenarnya lebih bertujuan untuk menambah pengetahuan umum bagi kami, para serviceman.
Yang jelas dari awal aku sudah memperhatikan bahwa pak Sigit sering mengucapkan "eee...". Sebuah penyakit yang, mungkin, sering atau pernah diderita oleh orang yang bicara di depan umum. Iseng ku hitung jumlah kata "eee..." yang beliau ucapkan selama 15 menit bicara, kurang lebih 60 kali. Jadi rata-rata 4 kali per menit. Hehehe, boros sekali ya?
Well, tapi ku akui, memang menghilangkan penyakit itu memang sulit. Apalagi kalau sudah menjadi kebiasaan kita. Menurut teori penyakit ini bisa dihilangkan kalau kita menguasai materi yang kita bawakan. Selain itu kita juga harus tetap tenang dalam membawakannya. Tapi kalau sudah menjadi kebiasaan ya sulit juga menghilangkan kebiasaan itu. Kalau sekarang aku disuruh bicara di depan umum pasti masih kebanyakan "eee..." juga.

04 August 2009

Selisih Waktu

Well, sekarang aku berada di zona waktu Gmt + 9, atau WIT. Jadi dibanding sama kampung halamanku, Bantul, tempatku sekarang 2 jam lebih awal. Kalau tempatku jam 7 pagi, Bantul baru jam 5 pagi. Alhasil kalau di Bantul adzan maghrib, tempatku sudah jam 8 malam. Kalau aku lagi nonton TV terus tiba-tiba ada adzan jadi terasa aneh. Aku sudah sholat 'isya, Bantul baru maghrib. Seperti melihat masa lalu saja. Menurutku rasa aneh ini tidak akan hilang seperti pengalaman pada waktu aku di Sangatta. Selama 10 bulan di sana rasa aneh itu tidak hilang juga. Mungkin di sini juga begitu.
Yang paling menjengkelkan kalau mau menyesuaikan waktu dengan orang rumah jadi sulit. Misalnya saja kalau aku mau nelepon orang rumah. Biasanya kalau jam nelepon antara jam 8-9 WIB, alias jam 10-11 WIT. Jadinya terlalu malam buatku karena aku harus tidur jam 9. Mentok jam 10, biar paginya bisa bangun awal. Memang merepotkan tapi merupakan tantangan tersendiri bagi perantau seperti aku saat ini.
B-)

02 August 2009

Looking for Home

Bukan berarti aku sekarang, di sini, di Timika almost homeless, tapi memang homeless, hehehe... Nggak ding! Just Gouyon.
Di sini aku dan temen-temen memang harus cari kontrakan sendiri. Kami diberi waktu selama satu bulan oleh perusahaan dan selama itulah kami diinapkan di sebuah hotel (lebih pantas disebut losmen, sebenarnya).
Hari ini hari ke-2 pencarian. Hari pertama kemarin Sabtu. Yang kemarin biarlah berlalu, yang hari ini biarlah kuceritakan.
Jam berapa entah berangkat, yang jelas setelah jam 9 pagi. Aku plus 2 orang temanku keluar cuma dengan jalan kaki, masuk keluar gang yang berpotensi menyimpan rumah kontrakan yang cukup besar untuk, paling tidak, 5 orang. Dan setelah mencari, menimbang, memperhatikan, dan bertanya pada setiap insan yang punya rumah kontrakan, belum juga dapat. Akhirnya kami menyerah dan pulang ke hotel pada jam 13.00 wit.
Okey, that doesn't matter. Paling tidak kami bisa menggantungkan harapan pada seorang pemilik kontrakan yang meminta kami kembali sore harinya untuk mengecek apakah masih ada yang kosong. Temenku yang lain ternyata juga cari dan ada harapan lagi.
Hihihi
Alhamdulillah