Tau Malin Kundang kan? Tokoh legenda Indonesia yang terkenal sebagai orang yang durhaka kepada orang tuanya. Pergi merantau ke negeri orang kemudian setelah sukses dan kembali ke kampung halamannya tidak mau mengakui orang tuanya sendiri. Yeah, semua orang pasti tau ceritanya jadi nggak perlu ku ceritakan ulang lagi. Sebagai seorang perantau yang pergi mencari sesuap nasi di negeri orang aku jadi merasa seperti Malin Kundang. Yah, paling tidak aku masih mengakui, bahkan merindukan orang tuaku.
Bukannya kok nggak mau pisah ma orang tua, tapi seharusnya aku merawat dan menjaga orang tuaku di hari tua mereka, bukan malah meninggalkan mereka. Memang sih, masih ada kakak ku dan yang lain yang menjaga mereka. Tapi justru karena itu aku merasa menjadi anak yang paling tidak berguna karena tidak bisa ikut menjaga orang tuaku secara langsung. Sering orang tuaku bilang padaku: "Kamu merantau juga untuk kebaikan kita juga dan untuk masa depanmu. Jadi nggak usah pikirkan yang di rumah". Entah itu cuma kata-kata untuk menenangkanku atau memang itu pendapat murni mereka.
Jadi kelihatan ya kalo aku nggak siap merantau? Kalo pendapat bosku di sini lain. Beliau bilang itu normal karena aku orang Jogja. Kok bisa!? Soalnya memang sudah menjadi adat bagi orang Jogja untuk benar-benar memperhatikan orang tua mereka. Bahkan perhatian jarak jauh nggak cukup. Yang namanya memperhatikan itu ya harus langsung! Begitu beliau bilang. Aku jadi tambah yakin aku adalah Malin Kundang versi Jogja. Ha...ha....ha....
Bayangkan. Kalau orang tuaku kenapa-napa, seperti beberapa minggu yang lalu ibuku mengalami sedikit kecelakaan namun cukup parah efeknya karena membuat pergelangan tangan beliau retak. Akibatnya beliau tidak bisa beraktifitas seperti biasa lagi selama masa penyembuhan itu. Saat pertama kali aku diberitahu hal itu aku benar-benar merasa nggak bisa apa-apa. Nggak enak banget rasanya. Saat masa penyembuhan itu ibuku jadi tidak bisa bepergian sendirian. Harus diantar orang. Opsinya hanya ada dua, diantar ayahku, atau kakakku. Ayah sudah terlalu sepuh jadi tidak bisa selalu ada untuk nganter ibu, jadi cuma kakak saja. Itu pun kalo dia nggak lagi keluar dapet orderan ndekorasi. Aku sempat berpikir kalau saja aku saat itu di rumah, pasti aku yang nganter ibu kemana-mana.
Sebenarnya yang paling nggak bisa aku terima adalah kenyataan bahwa aku tidak lagi selalu bisa mencium tangan kedua orang tuaku saat Idul Fitri tiba. Memang baru 2 kali aku merasakan tidak lebaran di rumah. Dan 2 kali itu rasanya menyebalkan, terasa hampa, menyedihkan malah. Yang namanya "sungkem" sama orang tua ya pantasnya plus cium tangan tapi yang "2 kali" terakhir cuman bisa mengandalkan operator seluler untuk menyampaikan salam dan permintaan maafku. Sering aku menyesali saat-saat aku bisa bersama dengan keluarga namun aku tidak mensyukurinya.
Ya sudah. Itulah konsekuensinya merantau. Pikiran-pikiran itu pasti selalu berakhir pada statement itu. Semua ada konsekuensinya. Mau gimana lagi. Aku yang milih jalan ini, aku juga harus mampu dan mau menanggung konsekuensinya.
No comments:
Post a Comment