29 May 2011

What a Tough Night

Night shift. Night shift = membalik hidup. Yang tadinya siang bekerja menjadi tidur. Yang tadinya malam tidur menjadi malam bekerja. Yang tadinya makan siang jam 12.00 p.m menjadi makan malam jam 00.00 am. Semuanya jadi terbalik. Tapi enaknya kerja tidak underpressure karena bos tidak ada yang masuk. "Atasan langsung" hanya seorang leader yang masih bisa dibilang mekanik. Jadi tidak terlalu mengekang.

"Jabatan"-ku di tempat kerja sebenarnya Inspector (a.k.a tukang ukur). Jadi part yang habis dibongkar dibawa masuk kemudian ku periksa apakah masih layak pakai atau tidak. Identiknya diukur menggunakan berbagai macam alat ukur untuk mengetahui ukurannya masih masuk spesifikasi standar atau tidak. Makannya bisa dibilang tukang ukur. Malam pertama sampai malam ke-4 aku masih menjadi inspector karena barang yang dibongkar banyak juga. tapi masuk malam ke-5 kerjaanku habis. makannya aku dialihkan ke bagian assembly. Kerjaanku bukan mengukur lagi, tetapi merakit part-part yang tersedia menjadi sebuah komponen hidrolik utuh. Jadi biasanya bergulat dengan alat ukur menjadi bergulat dengan kunci dan oli. Tidak masalah, karena itu juga bagian dari skill-ku.

Aku termasuk masih amatir (sangat amatir malah) dalam hal assembly. Belum lincah, masih kebanyakan bingung dan tidak tahu caranya. Tapi leaderku melepasku begitu saja dan hanya turun tangan membantu kalau aku memang benar-benar mengalami kesulitan. Dan itu mauku. Jadi aku cepat bisa dan mempunyai pengalaman sendiri. Disamping itu, ada rasa bangga juga kalau bisa menyelesaikan satu komponen sendirian tanpa campur tangan orang lain.

Selama 2 pekan masuk malam kali ini, bisa dibilang 70% aku kerja di bagian assembly. Pekan ke-2 full ke bagian assembly. Hingga malam terakhir (tadi malam) aku pun kerja di bagian assembly. Tapi semalam aku kerja sendirian. 2 komponen diserahkan kepadaku penuh. Malam-malam sebelumya temanku ada sedikit membantu. Tapi kali ini semua sibuk sehingga aku kerja sendirian. Yang bikin capek sebenarnya bukan pekerjaan assembly-nya seperti mengencangkan baut dengan torque yang besar dan sebagainya. Komponen yang ku kerjakan semalam sebenarnya tidak terlalu besar meski harus mengencangkan baut dengan torque 600 lb.ft (atau sekitar 800 N.m), dan sebuah mur dengan torque 4700 lb.ft (justru ini malah ringan karena menggunakan tool otomatis, tinggal pencet sebuah tombol). Itu termasuk komponen sedang dan mudah merakitnya. Yang bikin capek justru jalan kesana kemari cari komponen lah, cari tool-lah (karena harus berjalan ke section lain buat pinjam tool). Sebenarnya bisa diatasi dengan mempersiapkan segalanya di dekatku. Tapi itulah kekuranganku karena aku masih amatir jadi belum bisa mempersiapkan apa-apa yang diperlukan dengan baik.

Pada saat melakukannya aku belum merasa capek. Justru rasanya segar. Cuman begitu selesai langsung terasa capeknya. Aku selesaikan segalanya sampai merapikan tempat kerja dan membereskan part-part sisa tepat setengah jam sebelum bel pulang. Begitu duduk istirahat sambil menunggu bel pilang, mata langsung terasa berat, badan capek semua terutama kaki rasanya pegal. Di perjalanan pulang pun aku tidur di dalam bis sepanjang perjalanan pulang. Sampai di rumah rasanya menyenangkan sekali lihat kasur dan bantal. Tanpa ganti baju (ih! jorok...) langsung tewas terkapar di kamar....

No comments:

Post a Comment