01 November 2011

Karyawan Freeport Naik Gaji. Setuju Atau Tidak

Sudah 3 minggu ini aku dan karyawan Trakindo yang lain tidak bekerja karena demonstran Freeport "meminta" kami untuk menunjukkan "solidaritas". Mereka tidak kerja, kami pun tidak kerja. Tujuan mereka supaya Freeport berhenti beroperasi sehingga tuntutan mereka terpenuhi. Intinya mereka meminta agar gaji mereka disetarakan dengan karyawan Freeport di luar negeri yang besarnya (kata mereka) 3x lipat gaji mereka. Jadi intinya mereka meminta agar naik gaji sebesar 3x lipat. Wow! Bayangkan! Misalnya gaji mereka saat ini sudah 10 juta berarti menjadi 30 juta per bulan! Ngeri! Dan bila itu terjadi, tidak akan berdampak langsung dengan gaji karyawan Trakindo karena secara manajemen, Trakindo dengan Freeport beda pemimpinnya, beda manajemennya. Toh meskipun naik itu terjadi karena harga barang di timika naik juga karena pasar juga akan mengetahui bahwa karyawan Freeport naik gaji dan harga barang pun di naikkan. Otomatis gaji pekerja di Timika entah Trakindo, Toyota, Suzuki, dsb bakal naik. Jadi gaji naik, harga barang juga naik. Apa bedanya!? Dampaknya tidak akan berhenti sampai di Timika saja. Karyawan dari perusahaan tambang di daerah lain pun pasti bakalan menuntut perubahan pada gaji mereka. Baru membayangkannya saja sudah pusing, apa lagi mikir solusinya.

Misalnya aku ditanya, setuju atau tidak karyawan Freeport naik gaji? Jawabanku setuju. Tapi tidak sampai sebesar itu. 300%? Efeknya bakal ngeri dari segi perekonomian. Kalo orang ekonomi bilang mungkin bakalan terjadi inflasi besar-besaran. Sekarang baru isu dan belum terrealisasi naik gajinya pun kabarnya harga barang sudah ada yang naik, terutama bumbu dan bahan makanan. Entah benar atau tidak, karena aku sendiri tidak pernah masak jadi tidak pernah belanja bahan mentah. Menurutku setiap karyawan berhak menerima kenaikan gaji, tapi berdasarkan performa kerjanya juga. Misalnya kerjanya bagus, rajin dan disiplin, harusnya gajinya naik juga. Presentase naiknya pun juga ditentukan dari performa kerja. Katakanlah yang sangat rajin dan disiplin tadi gajinya naik 20%. Kemudian ada yang agak rajin, kerjaan beres tapi lambat, naik 10%, dst.

Kemudian kalau ada yang bilang, demonstran itu kan juga membela kepentingan negara? Buktinya mereka menuntut bagian yang 1% untuk negara itu dinaikkan. Saya setuju! Sangat setuju! Tapi bukan berarti bagian yang 1% itu naik dengan cara menaikkan gaji mereka menjadi 3 kali lipat. Jadi soal gaji dan bagian 1% untuk negara itu berbeda. Soal bagian Indonesia yang 1% itu, menurutku salah pemerintah Indonesia yang dulu menandatangani kontrak pertama dengan Freeport. Saya pernah melihat di TV swasta, wawancara salah seorang mantan pejabat pemerintahan yang dulu cukup berwenang soal tanda tangan kontrak dengan Freeport. Aku lupa namanya. Beliau dipandang cukup "merepotkan" bagi Freeport karena tahan suap. Saat diwawancarai, beliau mencemooh pejabat yang pada waktu itu berhasil disuap oleh Freeport sehingga kontrak yang saat ini berjalan dapat ditandatangani. Akibatnya sekarang hanya menerima 1% dari keuntungan Freeport.

Ada salah seorang temanku, dia berpendapat bahwa lebih baik Freeport dijadikan BUMN saja. Orang Indonesia yang mengelola. Sebenarnya kita bisa mengelola Freeport. Buktinya sebagian besar karyawan Freeport itu orang Indonesia. Tidak cuma karyawan non-staff. Karyawan staff pun banyak orang Indonesia. Bila kita yang mengelola sendiri, maka keuntungan dari tambang tersebut juga untuk kita sendiri, untuk negara kita sendiri. Cuma yang jadi masalah sebenarnya adalah budaya korupsi di negara kita. Itu yang membuat keuangan negara ini menjadi kacau. Tapi saya juga setuju bila Freeport itu diubah menjadi BUMN. Menurut saya itu menjadi one stop solution untuk masalah freeport ini. Dan saya yakin orang Indonesia mampu menjalankan perusahaan tambang emas terbesar di seluruh Indonesia ini, karena Indonesia bisa!!

No comments:

Post a Comment