10 November 2011

Pagi-Pagi Marah-Marah......

Ha...ha...ha.... Sebenarnya aku yang dimarahin. Nggak langsung secara frontal sih, sambil lalu saja. Jadi orang itu marah-marahnya nggak puas kayaknya. Ha...ha....ha...

Jadi gini ceritanya. Hari ini aku masih belum masuk kerja. Harusnya masuk malam sih, tapi karena aku rada "ndableg" jadi malah disuruh off sama bos. Daripada pagi-pagi tidur trus ke depannya bikin badan nggak enak karena cuma malas-malasan di rumah, aku pergi sepedaan. Berdua sama teman rumah sebelah, kami berdua berangkat. Jam 05.45 berangkat tapi jalan sudah cukup ramai. Beberapa motor sudah lalu lalang mengawali hari yang cerah ini. Kebanyakan tukang ojek dan beberapa tukang sayur.

Putar-putar Timika sebentar sampai agak pelosok dikit kami memutuskan pulang. Tapi lewat jalur yang berbeda dari berangkat tadi. Sengaja sedikit mutar karena belum cukup berkeringat. Kurang lebih jam 06.30 aku sampai di sebuah perempatan yang cukup lebar sehingga jalur sebelah kiri dan kanan dipisahkan oleh trotoar. Di perempatan itu belok kiri jalan terus. Aku mau jalan lurus, jadi aku ambil di bagian tengah supaya tidak mengganggu kendaraan yang mau belok kiri. Karena baru saja merah, aku jadi berada paling depan dan berada di tengah jalan tapi sudah di sebelah kanan marka jalan yang membelah untuk kendaraan yang lurus dan yang belok kiri. Aku santai saja di situ. Beberapa motor mulai berdatangan di belakangku. Begitu lampu hijau, aku langsung jalan. Biasanya langsung berakselerasi, tapi pagi itu aku lagi pengen santai saja jadi cuma berjalan tidak terlalu cepat tapi cukup mengimbangi sepeda motor yang mulai melaju. Ada seorang tukang ojek yang tadinya di belakangku, mendahului dari kiri. Dia mendahului sambil bilang, "Sepeda itu di pinggir, go**ok!", dengan penuh emosi kayaknya.

Sadar yang dimarahi aku, aku cuma mesem dengan heran. Ngapain dia marah-marah, pikirku. Aku lurus, dia juga lurus ngapain juga musti marah-marah. Memang sih setelah dari perempatan itu aku minggir karena aku masih di tengah-tengah. Tapi aku minggir setelah dia mendahuluiku. Jadi kayaknya tidak ada alasan dia terganggu karena aku mau minggir. Bahkan orang yang di belakangku saat aku mau minggir aja tidak marah, ngapain dia marah?  Aku bukannya ikut marah tapi malah merasa geli saja sama orang itu. Mungkin dia jadi nggak bisa langsung berakselerasi cepat begitu lampu hijau menyala karena terburu-buru. Tapi ngapain juga tukang ojek terburu-buru? Apa yang diburu? Orang dia tidak mboncengin penumpang? Lagian emang bisa motornya berakselerasi cepat? Dari suaranya saja sudah ketahuan itu motor tidak mungkin bisa 0-50 km/jam dalam 10 detik. Suara mesinnya kalah sama suara katupnya! Ha....ha....ha... Tipikal motor butut di Timika deh pokoknya!

Sepanjang perjalanan aku berharap ketemu atau paling tidak lihat dia lagi. Cuma pengen melemparkan senyum heran dengan mengangkat alis sebelah biar dia tambah emosi. Ha...ha...ha..... Tapi nggak ketemu ternnyata. Di jalan, kalau kau marah, kau kalah, teman!

No comments:

Post a Comment